Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan adanya relasi superioritas dan inferioritas yang merupakan sebuah representasi terhadap dikotomi Barat dan Timur dalam novel Jangan Menangis Bangsaku karya N. Marewo. Penelitian ini menggunakan teori Orientalisme Edward W. Said dengan metode kualitatif. Novel JMB ini menceritakan mengenai situasi yang terjadi pada tahun 1997 masa Orde Baru hingga peralihannya. Dalam pandangan Barat, Timur senantiasa dianggap membawa nilai-nilai yang lemah, antah berantah dan mudah diadu domba, sedangkan Barat membawa sifat sebaliknya, seperti pemberani, berkuasa, serta pintar. Dalam novel JMB, menguraikan bahwa Barat direpresentasikan oleh pemerintah Orba yang menguasai segala aspek, salah satunya ekonomi. Pemerintah yang berkuasa dalam novel ini melakukan tindakan represif terhadap kelompok yang berseberangan. Timur yang direpresentasikan rakyat, khususnya warga yang mendiami Lembah Hijau mengalami penindasan hingga mati tertembak senapan. Selain itu, diperlihatkan pula bahwa Timur melalui tokoh Pak Karman mudah terprovokasi untuk mengambil keuntungan pribadi di Lembah Hijau sehingga perkelahian dalam lingkup mikro akibat politik adu domba yang penguasa lakukan. Politik pecah belah sebenarnya sudah tercermin sejak zaman Kolonial Belanda dengan istilah devide et impera. Dalam penelitian ini pula menghasilkan sebuah dekonstruksi terhadap Timur, yang berkaitan dengan nilai-nilai unggul. Nilai ini terpresentasikan melalui tokoh Tambor dan Riska yang setia kawan, sikap gotong royong, hingga memiliki nilai kekeluargaan dan kebersamaan.
Copyrights © 2024