Epistimologi membahas mengenai bagaimana cara memperoleh atau mendapatkan ilmu pengetahuan sehingga epistimologi ini berkaitan erat dengan persoalan metode untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu pengetahuan kian pesat seiring dengan dinamika peradaban manusia. Dalam Islam, ilmu agama (naqiyah) merupakan sumber ilmu pengetahuan lain karena ilmu Agama bersifat mutlak. Ilmu agama bersifat normatif tekstual teological khlasik yang meyakini sebagai kebenaran tuhan tidak tiragukan lagi. Berbeda hal nya dengan sains, kepada apa yang dilihat, di ukur dan dapat dibuktikan. Sains bersifat fositifis, empiris dan rasionalis. Sain berpihak pada rasio manusia pada saat itu sehingga kebenaranya bersifat relatif. Namun demikian baik ilmu agama maupun sains, keduanya berkembang untuk tujuan yang sama yaitu meningkatkan harkat dan martabat manusia sebagai khalifah di alam semesta ini. Untuk menganalisis metode pembelajaran sains pendekatan yang digunakan adalah pengkajian sains yang sesuai dengan epistimologi Islam. Metode tersebut melahirkan proses pembelajaran yang integratif antara narasi wahyu dan fakta empiris alam semesta. Model pembelajarn tersebut sanggat dibutuhkan agar sains yang dikembangkan umat Islam bernilai spritual dan material sekaligus serta terhindar dari ataisme dan sekularisme.
Copyrights © 2025