LOKABASA
Vol 15, No 2 (2024): Oktober 2024

Representasi Budaya Batak-Toba dalam Lagu "Da Natiniptip Sanggar"

Zul Fahmi, Lisan Shidqi (Unknown)
Tampubolon, Flansius (Unknown)



Article Info

Publish Date
30 Oct 2024

Abstract

Lagu sebagai hasil dari pengalaman indrawi, merupakan ekspresi budaya yang dapat mendeskripsikan nilai-nilai atau adat-istiadat tertentu. Artinya, kebudayaan suatu Masyarakat di antaranya dapat terdokumentasikan melalui lagu. Kajian ini difokuskan terhadap salah satu lagu berbahasa Batak-Toba berjudul “Da Natiniptip Sanggar” karya Nahum Situmorang. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji makna lirik lagu tersebut melalui analisis yang bersifat kualitatif dan uraian deskriptif. Perspektif semiotika Roland Barthes digunakan dalam kajian ini dengan fokus pada kajian makna denotatif dan konotatif. Hasilnya menunjukkan bahwa lagu ini memuat falsafah Dalihan na Tolu, yang merupakan kompleksitas sistem kekerabatan masyarakat Batak-Toba. Di dalamnya, termuat representasi budaya berdasarkan falsafah tersebut, di antaranya martarombo (proses pengenalan/pencarian hubungan kekerabatan, setelah diketahui marga antara dua orang yang baru bertemu) dan partuturan (pedoman dalam interaksi sosial yang menjunjung tinggi adat). Selain itu, secara khusus lirik dalam lagu ini disusun dengan muatan umpasa, yang merupakan padanan dari ungkapan bijak dalam kesusastraan masyarakat Batak-Toba. Secara khusus, umpasa yang termuat dalam lagu tersebut merupakan nasihat yang biasa disampaikan bagi pasangan muda-mudi yang baru memasuki jenjang pernikahan.Songs, as a product of sensory experience, are cultural expressions that can describe certain values or customs. This means that the culture of a society can be documented through songs. This study focuses on a Batak-Toba language song titled "Da Natiniptip Sanggar," composed by Nahum Situmorang. The aim of this paper is to examine the meaning of the song's lyrics through qualitative analysis and descriptive exposition. Roland Barthes' semiotic perspective is employed in this study, focusing on denotative and connotative meanings. The results show that the song contains the philosophy of Dalihan na Tolu, which represents the complexity of the kinship system in Batak-Toba society. It reflects cultural representations based on this philosophy, including martarombo (the process of identifying or searching for kinship ties once the clan names are known between two people who have just met) and partuturan (guidelines for social interactions that uphold customs). Additionally, the lyrics of the song are specifically composed with umpasa, a literary expression of wisdom within Batak-Toba literature. In particular, the umpasa in this song provides advice typically given to young couples who are about to enter marriage.

Copyrights © 2024