Artikel ini bertujuan untuk menganalisis masalah tingginya angka anak usia sekolah yang tidak bersekolah di Papua dan mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan ketidakmerataan pendidikan di wilayah tersebut. Penelitian ini juga mengeksplorasi solusi potensial, termasuk implementasi program Sekolah Sepanjang Hari (SSH) sebagai upaya untuk meningkatkan partisipasi pendidikan di daerah terpencil. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menganalisis data sekunder dari laporan pemerintah, artikel penelitian terdahulu, serta kebijakan terkait pendidikan di Papua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor utama penyebab ketidakbersekolahan di Papua adalah aksesibilitas geografis yang terbatas, infrastruktur pendidikan yang tidak memadai, dan kurangnya tenaga pengajar yang berkualitas. Program SSH di beberapa daerah uji coba terbukti dapat meningkatkan angka partisipasi pendidikan. Namun, tantangan terbesar yang dihadapi adalah ketidakmerataan distribusi anggaran pendidikan dan kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Rekomendasi kebijakan mencakup pemerataan infrastruktur pendidikan, peningkatan kualitas dan distribusi guru, serta pengoptimalan penggunaan Dana Otsus untuk sektor pendidikan. Kesimpulannya, keberhasilan pendidikan di Papua memerlukan kebijakan yang lebih inklusif, berbasis pada kearifan lokal, serta partisipasi aktif semua pihak terkait untuk mewujudkan keadilan sosial dalam pendidikan.
Copyrights © 2024