Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi filosofi Jawa Among, Momong, lan Ngemong sebagai model kepemimpinan berbasis kearifan budaya lokal dalam konteks manajemen pendidikan. Filosofi ini menekankan pembimbingan (among), pengasuhan (momong), dan pendampingan dengan kasih sayang (ngemong), yang mencerminkan harmoni antara individu, organisasi, dan masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain survei terhadap 100 responden dari 15 institusi pendidikan di Jawa Timur, yang mencakup kepala sekolah, guru, dan staf administrasi. Survei ini dilengkapi dengan wawancara semi-terstruktur untuk mendalami konteks penerapan nilai-nilai budaya lokal. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk menggambarkan persepsi responden, sementara analisis tematik digunakan untuk menginterpretasikan data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi filosofi ini memberikan dampak positif signifikan pada berbagai aspek. Sebanyak 82% responden melaporkan peningkatan rasa percaya diri guru dan siswa melalui pendekatan among, sementara 78% mengakui peningkatan kepuasan kerja yang didorong oleh momong. Filosofi ngemong meningkatkan keterlibatan dalam pengambilan keputusan, diakui oleh 74% responden. Sebesar 80% guru mencatat peningkatan disiplin dan karakter siswa, dan 76% responden menyatakan filosofi ini membantu efisiensi organisasi. Dari survei orang tua siswa, 85% menyatakan kepercayaan yang tinggi terhadap pendekatan ini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa filosofi Among, Momong, lan Ngemong tidak hanya relevan, tetapi juga efektif dalam menciptakan kepemimpinan pendidikan yang harmonis dan adaptif. Pendekatan ini memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam pengembangan model kepemimpinan berbasis budaya lokal di era globalisasi
Copyrights © 2025