Indomie telah lama mendominasi pasar mie instan di Indonesia, menguasai sekitar 70% hingga 75% pangsa pasar. Keberhasilan merek ini tidak hanya didorong oleh kualitas produk yang konsisten, tetapi juga oleh strategi distribusi yang sangat efektif, termasuk distribusi eksklusif dengan pengecer besar seperti Indomaret dan Alfamart. Melalui kontrak distribusi eksklusif, Indomie memastikan produk mereka mendapatkan ruang rak yang lebih strategis dan lebih banyak dipromosikan, sementara pesaing seperti Mie Gaga sering kesulitan untuk mendapatkan akses pasar yang setara. Artikel ini menganalisis bagaimana kolusi vertikal antara Indomie dan pengecer besar menghambat persaingan pasar, membatasi akses bagi merek kecil, dan memperburuk ketidakseimbangan pasar. Dengan menggabungkan teori kolusi vertikal dan eksklusi vertikal, artikel ini menjelaskan bagaimana strategi ini memperkuat dominasi Indomie dalam pasar mie instan dan dampaknya terhadap persaingan serta kesejahteraan konsumen. Selain itu, artikel ini juga mengkaji kebijakan antitrust yang dapat diterapkan untuk menciptakan pasar yang lebih kompetitif dan adil.
Copyrights © 2025