Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis performansi Rajah Mata Timoeh pada masyarakat Aceh menggunakan pendekatan antropolinguistik. Performansi rajah pengobatan dianalisis menggunakan konsep yang dikemukakan oleh Halliday & Matthiessen untuk mengidentifikasi struktur pada teks rajah, dan konsep yang dikemukakan oleh Finnegan untuk mengidentifikasi ko-teks serta konteks. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi, melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur teks Rajah Mata Timoeh terdiri dari 4 mood deklaratif (44,44%) dan 5 mood imperatif (55,56%), di mana mood deklaratif berfungsi sebagai sugesti dan mood imperatif berperan dalam memberikan perintah untuk mengusir entitas gaib. Ko-teks Rajah Mata Timoeh yaitu sebagai media komunikasi antara Tabib dan entitas gaib, sedangkan konteksnya bersifat informal. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa performansi Rajah Mata Timoeh adalah ujaran-ujaran yang dihaturkan performer (Tabib) untuk mengusir entitas gaib dalam rangka mengobati penyakit mata dengan menggunakan material berupa 7 ujung bambu, 7 butir beras, 7 bunga terong. 3 daun terong, batok eter dan pisau yang dilakukan secara informal.
Copyrights © 2025