Kajian ekokritik dalam sastra menjadi pendekatan yang semakin relevan dalam memahami hubungan manusia dengan lingkungan. Penelitian ini menganalisis tema dan simbolisme alam dalam puisi D. Zawawi Imron melalui perspektif ekokritik Greg Garrard. Tiga puisi yang dikaji, yaitu "Semerbak Mayang", "Teluk", dan "Hujan, Terjunlah", menampilkan pemanfaatan unsur-unsur alam sebagai medium untuk mengungkapkan emosi, kritik sosial, serta spiritualitas penyair. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini menyoroti bagaimana Zawawi Imron menggambarkan alam tidak hanya sebagai latar, tetapi juga sebagai entitas yang hidup, memiliki makna filosofis, dan berinteraksi dengan manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbolisme alam dalam ketiga puisi tersebut mengandung pesan mendalam tentang keberlanjutan lingkungan, keterikatan spiritual, serta kritik terhadap eksploitasi alam. Greg Garrard membagi ekokritik ke dalam enam konsep utama, yaitu bumi, hutan belantara, bencana, binatang, pencemaran, dan perumahan/tempat tinggal, yang seluruhnya tercermin dalam puisi-puisi ini. Melalui penggunaan simbol-simbol alam seperti laut, gunung, hujan, dan tanah, Zawawi Imron berhasil membangun narasi puitis yang memperkuat kesadaran ekologis pembaca. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa sastra dapat menjadi medium yang efektif dalam menyuarakan isu-isu lingkungan. Studi ini juga memperkuat pentingnya pendekatan ekokritik dalam menganalisis karya sastra sebagai bagian dari upaya pelestarian ekologi melalui pemahaman simbolisme dan makna dalam puisi.
Copyrights © 2025