Penelitian ini mengembangkan model pelacakan data Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui analisis kerentanan untuk meningkatkan akurasi dan efektivitas penempatan posisi strategis. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi langsung, dan dokumentasi dari lima lembaga pemerintah untuk memastikan perspektif yang beragam dan triangulasi yang kuat. Temuan ini menyoroti dua wawasan utama: pertama, teknik intelijen, termasuk analisis pola perilaku, analisis jaringan sosial, dan pembuatan profil, sangat penting untuk mengidentifikasi kerentanan dalam catatan ASN. Metode-metode ini meningkatkan proses evaluasi tradisional dengan memungkinkan pengumpulan data yang sistematis dan mendalam, memastikan bahwa individu dengan integritas tinggi direkomendasikan untuk peran strategis. Kedua, data intelijen secara signifikan meningkatkan akurasi pelacakan data ASN dengan mengungkap potensi konflik kepentingan, risiko penyalahgunaan wewenang, dan afiliasi yang tidak sesuai. Studi ini sejalan dengan teori kerentanan dan ancaman dari Prunckun, yang menekankan pentingnya mengidentifikasi risiko tersembunyi yang sering kali terlewatkan dalam evaluasi konvensional. Data intelijen yang komprehensif, yang mencakup informasi keuangan, sosial, dan digital, mendukung identifikasi kerentanan yang akurat dan strategi mitigasi yang efektif. Rekomendasi yang diberikan mencakup peningkatan kapasitas lembaga pemerintah dalam hal teknik intelijen, pengembangan sistem data intelijen terintegrasi, dan penggunaan metode analisis risiko yang lebih canggih. Eksplorasi lebih lanjut terhadap model ini di sektor pemerintah dan swasta disarankan, di samping mengatasi masalah etika dan privasi terkait penggunaan data intelijen. Penelitian ini menggarisbawahi peran penting intelijen dalam mendorong proses penempatan ASN yang transparan dan akuntabel.
Copyrights © 2025