Limbah adalah bahan kimia yang sukar untuk mengurai dan pemanfaatan limbah menjadi alternatif lain untuk mengurangi adanya limbah pabrik. Limbah pabrik gula menghasilkan ampas tebu yang selama ini digunakan sebagai bahan bakar pada proses pembuatan gula, dari pembakaran tersebut menyisakan abu ampas tebu. Upaya memperbaiki karakteristik tanah adalah dengan cara stabilisasi, selama ini umumnya penggunaan bahan stabilisasi adalah semen. Penggunaan semen memerlukan biaya yang cukup besar, salah satunya alternatif stabilisasi tanah yang perlu dicoba yaitu dengan menggunakan abu ampas tebu (AAT) sebagai pengelolaan limbah dan juga meningkatkan nilai guna abu ampas tebu tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kadar air, berat isi tanah, berat jenis, batas cair (LL) dan batas plastis (PL), analisa ayakan dan hidrometer, mengklasifikasi tanah, pemadatan, dan CBR. Setelah itu adapun pengujian yang dicampuri dengan abu ampas tebu meliputi pengujian batas cair (LL) dan batas plastis (PL), pemadatan dan CBR dengan penambahan prosentase abu ampas tebu 15%, 20%, 25%, 30%, dan 35%. Dari hasil penelitian, tanah tergolong dalam klasifikasi A-2-7, menurut AASHTO, nilai IP tanah asli sebesar 19,90%. Hasil uji CBR tanah asli menunjukkan bahwa nilai CBR rendaman 1 hari sebesar 5,56%, dengan nilai swelling 33%, nilai CBR rendaman 7 hari sebesar 11,54%, dengan nilai swelling 71%, nilai CBR rendaman 14 hari sebesar 16,41%, dengan nilai swelling 61%. Nilai CBR tanpa rendaman dengan pemeraman 1 hari sebesar 28,44%, Nilai CBR tanpa rendaman dengan pemeraman 7 hari sebesar 95,77%, Nilai CBR tanpa rendaman dengan pemeraman 14 hari sebesar 60,51%. Setelah ditambahkan dengan abu ampas tebu didapatkan nilai maksimum pengujian batas cair (LL) dan batas plastis (PL) pada prosentase 25% sebesar 2,07%, pada pengujian CBR mendapatkan penambahan terbaik pada prosentase 30% sebesar 24,05% pada rendaman 7 hari.
Copyrights © 2024