Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika percakapan di media sosial X terkait stigma perawan tua dan peran gender dalam konteks pernikahan. Data dikumpulkan melalui analisis percakapan di media sosial X menjelang Hari Raya Idulfitri 2024, yang melibatkan unggahan dan komentar mengenai status lajang perempuan. Hasil analisis menunjukkan bahwa stereotipe terhadap perempuan lajang, terutama mereka yang berusia di atas 30 tahun, diperdebatkan dengan intens. Peserta percakapan, khususnya perempuan, menggunakan pengalaman pribadi, sindiran, dan strategi defensif untuk melawan stigma sosial, seperti istilah perawan tua yang mereka redefinisi sebagai simbol kemandirian. Percakapan ini juga menunjukkan peran media sosial sebagai platform untuk mengkritik norma patriarki yang menuntut perempuan menikah pada usia tertentu. Kritik terhadap peran laki-laki yang tidak bertanggung jawab, seperti melalui istilah mokondo, menjadi topik sentral, mencerminkan pergeseran nilai sosial yang menekankan kebebasan individu. Temuan ini mengindikasikan bahwa media sosial X tidak hanya memperkuat stereotipe tetapi juga menciptakan ruang bagi perubahan sosial, memperkenalkan narasi progresif tentang peran gender dan kehidupan lajang perempuan. Penelitian ini memperlihatkan pentingnya solidaritas kolektif dan peran media sosial dalam mendobrak stigma serta membangun kesadaran gender yang lebih inklusif.
Copyrights © 2024