Latar Belakang: Pengelolaan ketersediaan obat yang sesuai mampu memberikan biaya yang efesien dalam pengadaan obat. Permasalahan yang sering timbul dalam pengendalian ketersedian obat dimana menentukan jenis dan jumlah obat yang harus dipesan. Tujuan:Dalam mencapai keseimbangan antara tersedianya dan permintaan maka diperlukan sistem pengendalian inventory control (tersedia). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengendalian ketersedian obat klasifikasi AE menggunakan teknik EOQ, ROP, dan SS di Gudang Farmasi Kabupaten Karangasem. Metode: Penelitian ini bersifat kuantitatif, yang dimana Pengambilan sampel berdasarkan teknik purposive sampling. Hasil: Hasil penelitian dimana terdapat selisih antar nilai perencanaan dengan nilai pengadaan, analisis ABC terdapat 27 jenis (8%) obat kategori A diperkirakansenilai 75%, 64 macam (20%) obat kategori B diperkirakan senilai 20%, 232 jenis (72%) obat kategori C dengan penggunaan anggaran sebesar 5%. Analisis VEN terdapat obat kategori V (Vital) berjumlah 30 (9%), obat E (Essensial) berjumlah 279 (86%), sedangkan obat N (Non-essensial) berjumlah 14 (4%). Kombinasi ABC-VEN diperoleh golongan AE memiliki nilai investasi terbesar. Contoh dari 10 besar obat golongan AE yaitu Acyclovir cream 5 gr dengan EOQ sebanyak 14844 tube. ROP sebanyak 1519 tube. SS sebanyak 759 tube. Terdapat selisih sebesar Rp 2,335,710.35 antara nilai EOQ dengan pengadaan di GFK Karangasem dari 10 besar obat kategori AE. Kesimpulan: Analisis pengendalian obat menggunakan teknik ABC dan VEN mampu memberikan kontribusi positif dalam pengelolaan obat menjadi efisien terkhusus obat kategori AE. Penggunaan metode EOQ, SS, dan ROP memudahkan dalam mengontrol ketersedian obat. Sehingga, obat yang dipesan tepat sasaran dan mampu meminimalisir stok kosong. Kata Kunci: Pengendalian Persediaan Obat, ABC, VEN
Copyrights © 2022