Penelitian psikologi kualitatif ini bertujuan menjawab beberapa pertanyaan riset. Pertama, mengapa sejumlah pelajar perempuan luar Jawa menjadi mahasiswa rantau di Surabaya? Kedua, apa sajakah permasalah yang mereka hadapi? Ketiga, cara apa yang mereka terapkan dalam menangani masalah? Keempat, apa saja dampak penerapan strategi itu? Dengan menggunakan studi kasus atas enam mahasiswi dari berbagai daerah di luar Jawa, penelitian ini menemukan bahwa keputusan mereka untuk studi di perantauan merupakan buah dari interaksi antara kekuatan-kekuatan sosial (structure) dan faktor-faktor intra-individual (agency), utamanya tekad dan upaya meraih cita-cita. Mereka berani merantau karena sebelumnya mereka pernah bermigrasi atau tinggal jauh dari orang tua. Di masa anak-anak hingga remaja, mereka juga sudah biasa bersinggungan dengan masyarakat Jawa. Sebagai mahasiswi rantau, para perempuan ini menghadapi permasalahan, seperti tantangan lingkungan baru, tuntutan hidup mandiri, dan rasa rindu kampung halaman. Untuk mengatasi persoalan ini, mereka menjalankan agency dengan mengembangkan efikasi diri serta membina dan memanfaatkan jejaring sosial bermedium telepon genggam. Selain menghasilkan dampak yang sejak semula telah mereka duga, migrasi pendidikan ternyata mengakibatkan pula beberapa unintended consequences, seperti akulturasi budaya dan social learning, yakni mengilhami pemuda-pemudi di daerah asal untuk turut melakukan migrasi pendidikan ke Pulau Jawa. Kata Kunci: Struktur, agency, mahasiswi rantau, migrasi pendidikan
Copyrights © 2018