Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENERAPAN COGNITIVE BEHAVIOUR THERAPY UNTUK MENGATASI DISTORSI KOGNITIF PADA PELAKU PELECEHAN SEKSUAL DENGAN DISABILITAS INTELEKTUAL: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Adani, Erizza Farizan; Nuryananda, Tirta Firdaus; Harita, Adiwignya Nugraha Widhi
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 10 No. 4 (2025): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v10i4.10643

Abstract

Knowledge about sexual harassment committed by males with intellectual disabilities remains limited, despite extensive research on offenders without disabilities. Evidence from the late 1990s suggests that Cognitive Behavioral Therapy (CBT) can be effective for this population, with adjustments for cognitive deficits. This study systematically reviews the application of CBT to address cognitive distortions in sexual offenders with intellectual disabilities. Data were sourced from Web of Science, PubMed, Scopus, ProQuest, Jstor, and Emerald Insight. Articles were assessed using QATFQS for quality and ROBINS-I for bias risk. Six studies involving 127 participants (ages 17–65 years) demonstrated that CBT effectively reduced cognitive distortions up to 12 months post-intervention. Success factors included the presentation of information, therapist engagement, participant motivation, prior experiences of sexual harassment, and autism spectrum diagnoses. Strengths included simplified CBT interventions, availability of manuals, and group implementation. Weaknesses involved reliance on core steps adapted from general sexual offender programs, limited manual accessibility, and a lack of control groups for evaluating intervention effectiveness. Pengetahuan tentang pelecehan seksual oleh laki-laki dengan disabilitas intelektual masih terbatas, meskipun banyak studi tentang pelaku tanpa disabilitas. Bukti pada akhir 1990-an menunjukkan bahwa CBT dapat membantu mereka, dengan penyesuaian untuk defisit kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah secara sistematis penerapan CBT mengatasi distorsi kognitif pada pelaku pelecehan seksual dengan disabilitas intelektual. Sumber data yang digunakan adalah Web of Science, PubMed, Scopus, Proquest, Jstor dan Emerald Insight. Penilaian kualitas artikel menggunakan QATFQS dan penilaian risiko bias menggunakan ROBINS-I. Sebanyak 6 studi dengan 127 partisipan (usia 17–65 tahun) menunjukkan CBT efektif mengurangi distorsi kognitif hingga 12 bulan pasca-intervensi. Keberhasilan dipengaruhi oleh faktor seperti penyajian informasi, keterlibatan terapis, motivasi partisipan mengikuti intervensi, pengalaman pelecehan seksual dan diagnosis spektrum autisme. Kelebihan yang ditemukan dari keseluruhan studi yaitu menggunakan intervensi CBT yang telah disederhanakan, ketersediaan manual intervensi dan pelaksanaan intervensi secara berkelompok. Kelemahan yang ditemukan yaitu penggunaan langkah-langkah inti yang diadaptasi dari program intervensi pelaku seksual umum, manual intervensi yang tidak tersedia secara luas dan kurangnya kelompok kontrol dalam menguji keberhasilan intervensi.
EKSPLORASI REGULASI EMOSI DENGAN AKTIVITAS FISIK MAHASISWA Harita, Adiwignya Nugraha Widhi; Adani, Erizza Farizan; Azizah, Lely Nur
Jurnal Edukasi Citra Olahraga Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Edukasi Citra Olahraga
Publisher : STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38048/jor.v5i2.5438

Abstract

Ketidakseimbangan aktivitas fisik, baik berupa perilaku sedentari maupun overtraining, berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental. Meskipun pengaruh aktivitas fisik terhadap regulasi emosi telah banyak diteliti, kajian mengenai bagaimana regulasi emosi memengaruhi intensitas aktivitas fisik, khususnya pada mahasiswa, masih terbatas dan menunjukkan hasil yang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara regulasi emosi dan intensitas aktivitas fisik mahasiswa, serta dinamika keduanya berdasarkan jenis kelamin. Dengan metode survei kuantitatif, sebanyak 344 mahasiswa dilibatkan melalui teknik accidental sampling. Hasil menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara regulasi emosi dan intensitas aktivitas fisik. Tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam tingkat regulasi emosi antar gender, namun strategi yang digunakan berbeda. Mahasiswa laki-laki cenderung menggunakan expressive suppression, sementara perempuan lebih memilih cognitive reappraisal. Temuan ini menunjukkan bahwa regulasi emosi merupakan faktor psikologis penting dalam membentuk kebiasaan fisik aktif. Intervensi peningkatan gaya hidup sehat sebaiknya mempertimbangkan strategi regulasi emosi dan karakteristik gender.
Program Penguatan Kesejahteraan melalui Peningkatan Pengetahuan Pencegahan Bullying dan NAPZA Santosa, Rizky Putra; Putri, Ellyana Ilsan Eka; Puspitadewi, Ni Wayan Sukmawati; Harita, Adiwignya Nugraha Widhi; Oktaviana, Mimbar; Erbi, Mesa Taja Izza Jannati; Aqilah, Nayra
Journal of Community Development Vol. 6 No. 1 (2025): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/comdev.v6i1.1730

Abstract

Program pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa MTs Kebunrejo Genteng, Banyuwangi mengenai pencegahan perilaku bullying dan bahaya NAPZA melalui intervensi psikoedukasi. Remaja di lingkungan pesantren rentan terhadap permasalahan psikososial seperti perundungan dan penyalahgunaan NAPZA. Metode pelaksanaan meliputi presentasi materi, diskusi, studi kasus, dan praktik pembuatan poster edukasi yang diikuti oleh 56 siswa. Efektivitas program diukur menggunakan instrumen pretes-postes yang dianalisis dengan uji statistik paired sample t-test dan Wilcoxon signed-rank test. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan keseluruhan yang signifikan (t(55) = -2,46; p < 0,01; d = -0,32), meskipun dengan efek yang tergolong kecil (d = -0,32). Program ini menyimpulkan bahwa pendekatan psikoedukasi efektif untuk materi faktual seperti NAPZA, namun membutuhkan strategi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan untuk mengatasi kompleksitas pencegahan perilaku bullying. Respon peserta terhadap program secara keseluruhan berada pada kategori puas. Rekomendasi untuk intervensi serupa di masa depan adalah pengembangan program yang lebih diferensiatif sesuai dengan karakteristik masing-masing permasalahan.
EKSPLORASI REGULASI EMOSI DENGAN AKTIVITAS FISIK MAHASISWA Harita, Adiwignya Nugraha Widhi; Adani, Erizza Farizan; Azizah, Lely Nur
Jurnal Edukasi Citra Olahraga Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Edukasi Citra Olahraga
Publisher : STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38048/jor.v5i2.5438

Abstract

Ketidakseimbangan aktivitas fisik, baik berupa perilaku sedentari maupun overtraining, berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental. Meskipun pengaruh aktivitas fisik terhadap regulasi emosi telah banyak diteliti, kajian mengenai bagaimana regulasi emosi memengaruhi intensitas aktivitas fisik, khususnya pada mahasiswa, masih terbatas dan menunjukkan hasil yang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara regulasi emosi dan intensitas aktivitas fisik mahasiswa, serta dinamika keduanya berdasarkan jenis kelamin. Dengan metode survei kuantitatif, sebanyak 344 mahasiswa dilibatkan melalui teknik accidental sampling. Hasil menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara regulasi emosi dan intensitas aktivitas fisik. Tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam tingkat regulasi emosi antar gender, namun strategi yang digunakan berbeda. Mahasiswa laki-laki cenderung menggunakan expressive suppression, sementara perempuan lebih memilih cognitive reappraisal. Temuan ini menunjukkan bahwa regulasi emosi merupakan faktor psikologis penting dalam membentuk kebiasaan fisik aktif. Intervensi peningkatan gaya hidup sehat sebaiknya mempertimbangkan strategi regulasi emosi dan karakteristik gender.
Pendampingan Menumbuhkan Komunikasi Positif Guru-Murid melalui Mindful Parenting: Sebuah Psikoedukasi di Warraphat School Thailand Jaro'ah, Siti; Ardelia, Vania; Harita, Adiwignya Nugraha Widhi; Simatupang, Ribka Murtiara; Adani, Erizza Farizan; Sinaga, Renchia; Nirmalasari, Intan; Sholecha, Eka Wiwik S.L.
Rahmah : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2025): Rahmah : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Jaanur ElBarik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65065/5v9n5c90

Abstract

In the educational context, communication problems between teachers and students can have negative impacts. One approach that can be taken to address communication problems is mindful parenting. This community service activity aims to provide mindful parenting psychoeducation to teachers at Warraphat School in Thailand to improve positive communication skills with students. The PKM program was implemented online for teaching staff through counseling and case studies. The psychoeducation results increased teachers' knowledge and understanding of the importance of positive communication and the use of mindful parenting as an alternative method to improve positive communication. The implication of this program is that the implementation of mindful parenting and positive, non-judgmental communication from teachers to students can improve academic achievement
Gambaran Makna Kerja dan Kesiapan Psikologis Karyawan Menjelang Purnabakti di PT X Amalia, Restu Citra; Harita, Adiwignya Nugraha Widhi
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1181-1189

Abstract

Transisi menuju masa purnabakti merupakan fase krusial dalam perjalanan karier yang melibatkan perubahan peran, rutinitas, dan identitas, sekaligus menuntut kesiapan psikologis individu dalam menghadapi akhir peran kerja formal. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna kerja dan kesiapan psikologis karyawan menjelang purnabakti dalam konteks organisasi. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan desain fenomenologis, melibatkan dua partisipan karyawan pada PT X yang mendekati masa purnabakti, dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara sebelum dan setelah konseling pra-purnabakti serta observasi non-partisipan, kemudian dianalisis secara tematik untuk menafsirkan esensi pengalaman partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna kerja, yang terbentuk dari pengalaman kerja jangka panjang, nilai-nilai personal, dan refleksi diri, berperan penting dalam membentuk kesiapan psikologis menghadapi purnabakti. Partisipan yang memaknai pekerjaan secara bermakna dan memiliki dukungan sosial yang baik, menunjukkan kesiapan adaptif, mampu menerima perubahan peran, serta mempertahankan kesejahteraan psikologis. Temuan ini menegaskan bahwa pemaknaan kerja dan kesiapan psikologis merupakan faktor kunci dalam transisi purnabakti, sekaligus menjadi dasar bagi pengembangan intervensi atau konseling pra-purnabakti yang lebih komprehensif dan adaptif. Abstract The transition to retirement is a crucial phase in one's career journey, involving changes in roles, routines, and identity, while also requiring individuals to be psychologically prepared to face the end of their formal working life. This study aims to understand the meaning of work and the psychological readiness of employees approaching retirement in an organizational context. The approach used is qualitative with a phenomenological design, involving two employee participants at PT X who are approaching retirement, selected through purposive sampling. Data were collected through interviews before and after pre-retirement counseling and non-participant observation, then analyzed thematically to interpret the essence of the participants' experiences. The results show that the meaning of work, which is formed from long-term work experience, personal values, and self-reflection, plays an important role in shaping psychological readiness for retirement. Participants who found meaning in their work and had good social support showed adaptive readiness, were able to accept role changes, and maintained psychological well-being. These findings confirm that work meaning and psychological readiness are key factors in the retirement transition, as well as the basis for developing more comprehensive and adaptive pre-retirement interventions or counseling.