Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Parental Self-Efficacy Orang Tua Yang Memiliki Anak dengan Disabilitas Adiwignya Nugraha Widhi Harita; Achmad Chusairi
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 6, No 4 (2022)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v6i4.2321

Abstract

Adanya kebutuhan unik dari anak dengan disabilitas menghadapkan orang tua pada risiko permasalahan fisik dan mental dalam pengasuhan. Parental self-efficacy menjadi salah satu faktor penting untuk menurunkan distress psikologis dan perilaku maladaptif dalam pengasuhan. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi Parental self-efficacy. Penelitian dilakukan dengan metode systematic review menggunakan framework PICO dalam menentukan kriteria inklusi dan eksklusi. Pencarian artikel dilakukan pada 4 situs yaitu Proquest, SagePub, ScienceDirect, dan SpringerLink. Ditemukan 65 artikel yang selanjutnya diseleksi. Terdapat 6 artikel kuantitaif paling relevan yang di-review, sementara artikel kualitatif dan eksperimen dijadikan sebagai latar belakang dan bahan diskusi dalam artikel ini. Berdasarkan hasil systematic literature review yang dilakukan, diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi Parental Self-Efficacy adalah jenis kelamin, kelelahan, pengalaman mengasuh anak dengan disabilitas, dukungan sosial, stres, stigma, dan keterlibatan orang tua. Diperlukan intervensi psikologis seperti program meditasi, mindfulness, dan Cognitive Behavior Therapy (CBT) serta intervensi terkait knowledge orang tua
REGULASI DIRI PADA MAHASISWA PERANTAUAN DI SURABAYA Adiwignya Nugraha Widhi Harita; Suryanto Suryanto
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 12, Nomor 6, Tahun 2023 (Desember 2023)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/empati.2023.32333

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya regulasi diri mahasiswa perantau di lingkungan baru yaitu kota Surabaya. Teori yang akan digunakan untuk membahas adalah regulasi diri Bandura yang terdiri dari tiga komponen yaitu self-observation, judgemental process, dan self-reaction. Teori tersebut digunakan untuk menelaah perkembangan regulasi diri para partisipan. Pendekatan yang digunakan studi kasus dengan pengambilan data menggunakan wawancara semiterstruktur. Partisipan yang dilibatkan adalah mahasiswa baru yang berasal dari luar pulau jawa dan telah merantau selama minimal 1 tahun. Partisipan penelitian didapatkan dengan teknik snowball sampling. Analisis data dilakukan dengan analisis tematik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah mahasiswa perantau melaksanakan regulasi diri dengan menggunakan pengalaman di lingkungan baru sebagai tolok ukur. Faktor yang mempengaruhi kondisi regulasi diri mahasiswa perantau adalah faktor sosial dan personal. Di sisi lain, mahasiswa perantau mengalami kesulitan dalam melakukan regulasi diri di lingkungan baru yang berdampak secara sosial maupun akademik bagi partisipan. Kesulitan tersebut membuat partisipan menjadi merasa inferior dan apatis hingga berpengaruh pada mood sehingga sulit untuk hidup mandiri. Kondisi tersebut mendorong para mahasiswa perantau untuk melakukan prokrastinasi akademik. Sehingga saran yang dapat diperoleh dari penelitian ini yaitu pentingnya membuat strategi regulasi diri dengan membangun jejaring sosial bagi lulusan SMA yang hendak merantau dengan mahasiswa yang sudah berada di lokasi tujuan sebelumnya. Jejaring sosial tersebut membantu adaptasi mahasiswa baru yang merantau dengan memberikan informasi awal terkait kondisi di lapangan. Hal ini dapat meminimalisir gegar budaya dan memberikan bantuan bagi mahasiswa perantau ketika mengalami kesulitan.
PENERAPAN COGNITIVE BEHAVIOUR THERAPY UNTUK MENGATASI DISTORSI KOGNITIF PADA PELAKU PELECEHAN SEKSUAL DENGAN DISABILITAS INTELEKTUAL: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Adani, Erizza Farizan; Nuryananda, Tirta Firdaus; Harita, Adiwignya Nugraha Widhi
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 10 No. 4 (2025): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v10i4.10643

Abstract

Knowledge about sexual harassment committed by males with intellectual disabilities remains limited, despite extensive research on offenders without disabilities. Evidence from the late 1990s suggests that Cognitive Behavioral Therapy (CBT) can be effective for this population, with adjustments for cognitive deficits. This study systematically reviews the application of CBT to address cognitive distortions in sexual offenders with intellectual disabilities. Data were sourced from Web of Science, PubMed, Scopus, ProQuest, Jstor, and Emerald Insight. Articles were assessed using QATFQS for quality and ROBINS-I for bias risk. Six studies involving 127 participants (ages 17–65 years) demonstrated that CBT effectively reduced cognitive distortions up to 12 months post-intervention. Success factors included the presentation of information, therapist engagement, participant motivation, prior experiences of sexual harassment, and autism spectrum diagnoses. Strengths included simplified CBT interventions, availability of manuals, and group implementation. Weaknesses involved reliance on core steps adapted from general sexual offender programs, limited manual accessibility, and a lack of control groups for evaluating intervention effectiveness. Pengetahuan tentang pelecehan seksual oleh laki-laki dengan disabilitas intelektual masih terbatas, meskipun banyak studi tentang pelaku tanpa disabilitas. Bukti pada akhir 1990-an menunjukkan bahwa CBT dapat membantu mereka, dengan penyesuaian untuk defisit kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah secara sistematis penerapan CBT mengatasi distorsi kognitif pada pelaku pelecehan seksual dengan disabilitas intelektual. Sumber data yang digunakan adalah Web of Science, PubMed, Scopus, Proquest, Jstor dan Emerald Insight. Penilaian kualitas artikel menggunakan QATFQS dan penilaian risiko bias menggunakan ROBINS-I. Sebanyak 6 studi dengan 127 partisipan (usia 17–65 tahun) menunjukkan CBT efektif mengurangi distorsi kognitif hingga 12 bulan pasca-intervensi. Keberhasilan dipengaruhi oleh faktor seperti penyajian informasi, keterlibatan terapis, motivasi partisipan mengikuti intervensi, pengalaman pelecehan seksual dan diagnosis spektrum autisme. Kelebihan yang ditemukan dari keseluruhan studi yaitu menggunakan intervensi CBT yang telah disederhanakan, ketersediaan manual intervensi dan pelaksanaan intervensi secara berkelompok. Kelemahan yang ditemukan yaitu penggunaan langkah-langkah inti yang diadaptasi dari program intervensi pelaku seksual umum, manual intervensi yang tidak tersedia secara luas dan kurangnya kelompok kontrol dalam menguji keberhasilan intervensi.
Penerapan Cognitive Behaviour Therapy untuk Mengatasi Distorsi Kognitif pada Pelaku Pelecehan Seksual dengan Disabilitas Intelektual: Systematic Literature Review Erizza Farizan Adani; Tirta Firdaus Nuryananda; Adiwignya Nugraha Widhi Harita
Jurnal Praba : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum Vol. 2 No. 4 (2024): Desember : Jurnal Praba : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum
Publisher : STIKES Columbia Asia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62027/praba.v2i4.303

Abstract

Knowledge about sexual harassment committed by males with intellectual disabilities remains limited, despite extensive research on offenders without disabilities. Evidence from the late 1990s suggests that Cognitive Behavioral Therapy (CBT) can be effective for this population, with adjustments for cognitive deficits. This study systematically reviews the application of CBT to address cognitive distortions in sexual offenders with intellectual disabilities. Data were sourced from Web of Science, PubMed, Scopus, ProQuest, Jstor, and Emerald Insight. Articles were assessed using QATFQS for quality and ROBINS-I for bias risk. Six studies involving 127 participants (ages 17–65 years) demonstrated that CBT effectively reduced cognitive distortions up to 12 months post-intervention. Success factors included the presentation of information, therapist engagement, participant motivation, prior experiences of sexual harassment, and autism spectrum diagnoses. Strengths included simplified CBT interventions, availability of manuals, and group implementation. Weaknesses involved reliance on core steps adapted from general sexual offender programs, limited manual accessibility, and a lack of control groups for evaluating intervention effectiveness.
INTERAKSI STRUKTUR DAN AGENCY: STUDI KASUS MIGRASI PENDIDIKAN MAHASISWA PEREMPUAN LUAR JAWA KE SURABAYA ADIWIGNYA NUGRAHA WIDHI HARITA; NURCHAYATI
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 5 No. 2 (2018): Character : Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v5i2.24583

Abstract

Penelitian psikologi kualitatif ini bertujuan menjawab beberapa pertanyaan riset. Pertama, mengapa sejumlah pelajar perempuan luar Jawa menjadi mahasiswa rantau di Surabaya? Kedua, apa sajakah permasalah yang mereka hadapi? Ketiga, cara apa yang mereka terapkan dalam menangani masalah? Keempat, apa saja dampak penerapan strategi itu? Dengan menggunakan studi kasus atas enam mahasiswi dari berbagai daerah di luar Jawa, penelitian ini menemukan bahwa keputusan mereka untuk studi di perantauan merupakan buah dari interaksi antara kekuatan-kekuatan sosial (structure) dan faktor-faktor intra-individual (agency), utamanya tekad dan upaya meraih cita-cita. Mereka berani merantau karena sebelumnya mereka pernah bermigrasi atau tinggal jauh dari orang tua. Di masa anak-anak hingga remaja, mereka juga sudah biasa bersinggungan dengan masyarakat Jawa. Sebagai mahasiswi rantau, para perempuan ini menghadapi permasalahan, seperti tantangan lingkungan baru, tuntutan hidup mandiri, dan rasa rindu kampung halaman. Untuk mengatasi persoalan ini, mereka menjalankan agency dengan mengembangkan efikasi diri serta membina dan memanfaatkan jejaring sosial bermedium telepon genggam. Selain menghasilkan dampak yang sejak semula telah mereka duga, migrasi pendidikan ternyata mengakibatkan pula beberapa unintended consequences, seperti akulturasi budaya dan social learning, yakni mengilhami pemuda-pemudi di daerah asal untuk turut melakukan migrasi pendidikan ke Pulau Jawa. Kata Kunci: Struktur, agency, mahasiswi rantau, migrasi pendidikan
EKSPLORASI REGULASI EMOSI DENGAN AKTIVITAS FISIK MAHASISWA Harita, Adiwignya Nugraha Widhi; Adani, Erizza Farizan; Azizah, Lely Nur
Jurnal Edukasi Citra Olahraga Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Edukasi Citra Olahraga
Publisher : STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38048/jor.v5i2.5438

Abstract

Ketidakseimbangan aktivitas fisik, baik berupa perilaku sedentari maupun overtraining, berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental. Meskipun pengaruh aktivitas fisik terhadap regulasi emosi telah banyak diteliti, kajian mengenai bagaimana regulasi emosi memengaruhi intensitas aktivitas fisik, khususnya pada mahasiswa, masih terbatas dan menunjukkan hasil yang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara regulasi emosi dan intensitas aktivitas fisik mahasiswa, serta dinamika keduanya berdasarkan jenis kelamin. Dengan metode survei kuantitatif, sebanyak 344 mahasiswa dilibatkan melalui teknik accidental sampling. Hasil menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara regulasi emosi dan intensitas aktivitas fisik. Tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam tingkat regulasi emosi antar gender, namun strategi yang digunakan berbeda. Mahasiswa laki-laki cenderung menggunakan expressive suppression, sementara perempuan lebih memilih cognitive reappraisal. Temuan ini menunjukkan bahwa regulasi emosi merupakan faktor psikologis penting dalam membentuk kebiasaan fisik aktif. Intervensi peningkatan gaya hidup sehat sebaiknya mempertimbangkan strategi regulasi emosi dan karakteristik gender.
Program Penguatan Kesejahteraan melalui Peningkatan Pengetahuan Pencegahan Bullying dan NAPZA Santosa, Rizky Putra; Putri, Ellyana Ilsan Eka; Puspitadewi, Ni Wayan Sukmawati; Harita, Adiwignya Nugraha Widhi; Oktaviana, Mimbar; Erbi, Mesa Taja Izza Jannati; Aqilah, Nayra
Journal of Community Development Vol. 6 No. 1 (2025): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/comdev.v6i1.1730

Abstract

Program pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa MTs Kebunrejo Genteng, Banyuwangi mengenai pencegahan perilaku bullying dan bahaya NAPZA melalui intervensi psikoedukasi. Remaja di lingkungan pesantren rentan terhadap permasalahan psikososial seperti perundungan dan penyalahgunaan NAPZA. Metode pelaksanaan meliputi presentasi materi, diskusi, studi kasus, dan praktik pembuatan poster edukasi yang diikuti oleh 56 siswa. Efektivitas program diukur menggunakan instrumen pretes-postes yang dianalisis dengan uji statistik paired sample t-test dan Wilcoxon signed-rank test. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan keseluruhan yang signifikan (t(55) = -2,46; p < 0,01; d = -0,32), meskipun dengan efek yang tergolong kecil (d = -0,32). Program ini menyimpulkan bahwa pendekatan psikoedukasi efektif untuk materi faktual seperti NAPZA, namun membutuhkan strategi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan untuk mengatasi kompleksitas pencegahan perilaku bullying. Respon peserta terhadap program secara keseluruhan berada pada kategori puas. Rekomendasi untuk intervensi serupa di masa depan adalah pengembangan program yang lebih diferensiatif sesuai dengan karakteristik masing-masing permasalahan.
EKSPLORASI REGULASI EMOSI DENGAN AKTIVITAS FISIK MAHASISWA Harita, Adiwignya Nugraha Widhi; Adani, Erizza Farizan; Azizah, Lely Nur
Jurnal Edukasi Citra Olahraga Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Edukasi Citra Olahraga
Publisher : STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38048/jor.v5i2.5438

Abstract

Ketidakseimbangan aktivitas fisik, baik berupa perilaku sedentari maupun overtraining, berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental. Meskipun pengaruh aktivitas fisik terhadap regulasi emosi telah banyak diteliti, kajian mengenai bagaimana regulasi emosi memengaruhi intensitas aktivitas fisik, khususnya pada mahasiswa, masih terbatas dan menunjukkan hasil yang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara regulasi emosi dan intensitas aktivitas fisik mahasiswa, serta dinamika keduanya berdasarkan jenis kelamin. Dengan metode survei kuantitatif, sebanyak 344 mahasiswa dilibatkan melalui teknik accidental sampling. Hasil menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara regulasi emosi dan intensitas aktivitas fisik. Tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam tingkat regulasi emosi antar gender, namun strategi yang digunakan berbeda. Mahasiswa laki-laki cenderung menggunakan expressive suppression, sementara perempuan lebih memilih cognitive reappraisal. Temuan ini menunjukkan bahwa regulasi emosi merupakan faktor psikologis penting dalam membentuk kebiasaan fisik aktif. Intervensi peningkatan gaya hidup sehat sebaiknya mempertimbangkan strategi regulasi emosi dan karakteristik gender.
Pendampingan Menumbuhkan Komunikasi Positif Guru-Murid melalui Mindful Parenting: Sebuah Psikoedukasi di Warraphat School Thailand Jaro'ah, Siti; Ardelia, Vania; Harita, Adiwignya Nugraha Widhi; Simatupang, Ribka Murtiara; Adani, Erizza Farizan; Sinaga, Renchia; Nirmalasari, Intan; Sholecha, Eka Wiwik S.L.
Rahmah : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2025): Rahmah : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Jaanur ElBarik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65065/5v9n5c90

Abstract

In the educational context, communication problems between teachers and students can have negative impacts. One approach that can be taken to address communication problems is mindful parenting. This community service activity aims to provide mindful parenting psychoeducation to teachers at Warraphat School in Thailand to improve positive communication skills with students. The PKM program was implemented online for teaching staff through counseling and case studies. The psychoeducation results increased teachers' knowledge and understanding of the importance of positive communication and the use of mindful parenting as an alternative method to improve positive communication. The implication of this program is that the implementation of mindful parenting and positive, non-judgmental communication from teachers to students can improve academic achievement
Effect of Mindfulness Sport Performance Enhancement (MSPE) to Reduce competitive state anxiety on Karate Athletes Widhi Harita, Adiwignya Nugraha; Suryanto, Suryanto; Ardi, Rahkman
Jurnal SPORTIF : Jurnal Penelitian Pembelajaran Vol 8 No 2 (2022): Jurnal SPORTIF: Jurnal Penelitian Pembelajaran
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/js_unpgri.v8i2.17807

Abstract

Competitive state anxiety influences cognitive, emotional, and athlete behaviour while they have to perform perfectly in a competition. This study was conducted to analyze the effect of Mindfulness Sports Performance Enhancement (MSPE) training on competitive state anxiety of karate athletes in Surabaya. The research method used is quantitative with an experimental design. The sample in this study was 28 Karate athletes from Dojo Shiroite and INKAI in Surabaya. Those samples were selected using quota sampling. The intervention provided was an MSPE intervention adapted from Mindfulness Sports Performance Enhancement (MSPE). The data collection method was carried out using a competitive state anxiety scale adapted from The Revised Competitive State Anxiety Inventory – 2 with 17 items. The data were analyzed by paired t-test with SPSS 26. The result showed a significant decrease in the average competitive state anxiety by 9.25 points. This condition is supported by the decrease in cognitive anxiety and somatic anxiety dimension by 7.76 and 3.86 points. The decrease was also followed by an increase in the self-confidence dimension by 8.21 points. The findings in this study show the importance of continuous mental mindfulness training to improve athlete performance by overcoming competitive state anxiety. This research can also be a reference for practitioners and researchers. MSPE training can be developed as an effort to improve or solve problems related to an athlete's condition.