Sengketa Laut China Selatan merupakan salah satu isu paling kompleks dan strategis di kawasan Asia Pasifik, melibatkan berbagai negara dengan klaim tumpang tindih atas wilayah dan sumber daya alam yang melimpah. Konflik ini tidak hanya mencerminkan persaingan klaim teritorial, tetapi juga kepentingan politik, ekonomi, dan keamanan regional yang saling bertautan. China, dengan pendekatan asertif dan strategi “gray zone”, berupaya memperkuat dominasinya di kawasan melalui pembangunan infrastruktur, kehadiran militer, dan diplomasi ekonomi, sementara negara-negara ASEAN serta kekuatan eksternal seperti Amerika Serikat berupaya menyeimbangkan kepentingan keamanan dan ekonomi mereka di tengah tekanan Beijing. Ketergantungan ekonomi negara-negara Asia Tenggara terhadap China menjadi dilema tersendiri, di mana upaya menegakkan kedaulatan harus diimbangi dengan menjaga stabilitas ekonomi nasional. Di sisi lain, keterlibatan Amerika Serikat dan sekutunya menambah dimensi geopolitik yang semakin kompleks, menjadikan Laut China Selatan sebagai arena persaingan pengaruh global dan pengujian efektivitas norma hukum internasional. Dinamika ini menuntut pendekatan multidimensi dan kerja sama regional yang kuat guna mencegah eskalasi konflik dan menjaga stabilitas kawasan.
Copyrights © 2025