Media sosial telah menjadi arena baru pembentukan opini publik, khususnya melalui algoritma personalisasi konten seperti yang digunakan TikTok. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh algoritma TikTokterhadap opini publik mengenai kebijakan kesehatan di Jakarta Selatan. Teori Spiral of Silence digunakan sebagai kerangka analitis untuk memahami kecenderungan pengguna dalam menyuarakan atau menyembunyikan opini mereka di ruang digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam terhadap lima pengguna aktif TikTok berusia 18–25 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa algoritma TikTok secara signifikan memengaruhi eksposur pengguna terhadap konten-konten tertentu yang bersifat kritis terhadap kebijakan kesehatan seperti vaksinasi dan program BPJS. Algoritma ini menciptakan filter bubble yang memperkuat narasi dominan dan memicu efek spiral of silence di kalangan pengguna yang memiliki pandangan berbeda. Selain itu, rendahnya literasi digital menyebabkan sebagian besar responden cenderung mempercayai konten viral tanpa verifikasi sumber. Temuan ini mengindikasikan bahwa algoritma tidak hanya mengarahkan konsumsi informasi, tetapi juga membentuk atmosfer sosial yang memengaruhi ekspresi opini publik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dominasi algoritmik dalam media sosial berpotensi melemahkan partisipasi kritis masyarakat terhadap kebijakan publik. Implikasinya, pemerintah dan praktisi komunikasi kesehatan perlu mengembangkan strategi komunikasi yang inklusif, berbasis data, dan responsif terhadap dinamika algoritmik di media sosial.
Copyrights © 2025