Penelitian ini bertujuan untuk mendidentifikasi komunikasi antarbudaya antara tenaga pendidik dan siswa asal Indonesia Timur di lingkungan sekolah berasrama, dengan fokus pada Sekolah GenIUS Kabupaten Tangerang, Banten. Sekolah ini merupakan lembaga pendidikan yang menampung siswa dari wilayah 3T (Tertinggal, Terluar, dan Terdepan) seperti Papua dan Maluku, dengan tenaga pendidik yang mayoritas berasal dari luar wilayah tersebut. Perbedaan latar belakang budaya, bahasa, dan cara pandang antara guru dan siswa menciptakan tantangan tersendiri dalam proses interaksi dan pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma konstruktivisme. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menggunakan strategi komunikasi verbal yang adaptif, seperti menyederhanakan bahasa dan menggunakan kosakata lokal. Komunikasi nonverbal seperti gestur dan ekspresi wajah juga penting untuk membangun kedekatan. Pola komunikasi yang terbentuk bersifat dua arah dan interaktif. Hambatan komunikasi muncul akibat perbedaan budaya, bahasa, dan pemahaman terhadap istilah akademik. Namun, interaksi yang intensif di lingkungan sekolah dan asrama membantu membangun komunikasi yang efektif. Penelitian ini menegaskan pentingnya kompetensi antarbudaya dalam pendidikan multikultural.
Copyrights © 2025