Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana wacana budaya dikonstruksi dan direpresentasikan dalam media cetak Indonesia pasca-reformasi, dengan fokus pada strategi bahasa dan narasi yang digunakan media dalam membingkai isu budaya, serta hubungan antara perubahan sosial-politik dan peran media cetak sebagai agen pembentuk ideologi. Pendekatan kualitatif dengan metode analisis wacana kritis (CDA) digunakan untuk mengkaji wacana budaya yang dibentuk media cetak antara tahun 1998 dan periode tertentu, dengan data utama berasal dari artikel, berita, dan opini yang diterbitkan oleh media nasional seperti Kompas, Media Indonesia, dan Republika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media cetak pasca-reformasi mengubah wacana budaya dengan mendorong diskusi publik yang lebih inklusif, menggantikan narasi teologis dan memperkenalkan representasi budaya yang lebih beragam, termasuk pengakuan terhadap budaya Tionghoa Indonesia. Di sisi lain, tantangan seperti komersialisasi media dan stereotip yang terus berlanjut menunjukkan ketegangan antara keberagaman budaya dan homogenisasi budaya dalam media. Media cetak berperan dalam membentuk identitas budaya dengan memanfaatkan metafora, simbol, dan narasi, namun juga berisiko memperkuat bias dan stereotip, sehingga menuntut keterlibatan kritis dalam membaca wacana media untuk menciptakan pemahaman budaya yang lebih inklusif.
Copyrights © 2025