Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara sistematis konsep resiliensi pada anak-anak korban konflik bersenjata melalui telaah terhadap 30 artikel ilmiah dari berbagai pendekatan metodologis dan konteks geografis. Hasil studi menunjukkan bahwa anak-anak yang terpapar perang menghadapi risiko tinggi terhadap gangguan psikologis seperti PTSD, kecemasan, dan depresi. Namun, banyak dari mereka juga menunjukkan ketahanan yang luar biasa, yang diperkuat oleh keterikatan emosional yang aman, dukungan sosial, spiritualitas, serta partisipasi dalam pendidikan dan aktivitas bermakna. Resiliensi ditemukan sebagai proses dinamis yang dipengaruhi oleh interaksi antara faktor individu, lingkungan keluarga, komunitas, dan kebijakan publik. Intervensi yang paling efektif adalah yang berbasis komunitas, berorientasi pada budaya lokal, dan bersifat trauma-informed. Studi ini menyimpulkan bahwa pemahaman dan penguatan resiliensi anak korban perang memerlukan pendekatan multilevel yang berkelanjutan dan kolaboratif. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan intervensi dan kebijakan yang lebih inklusif dan sensitif terhadap konteks anak-anak di zona konflik.
Copyrights © 2025