Sungai Musi memiliki peran strategis dalam sejarah maritim kolonial Hindia Belanda selama periode Gemeente Palembang (1906-1942). Sebagai jalur utama perdagangan dan transportasi, sungai ini menghubungkan Palembang dengan wilayah pedalaman Sumatra Selatan dan jaringan perdagangan internasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis dengan metode kualitatif-deskriptif serta analisis geografi kritis untuk memahami bagaimana kebijakan kolonialisme memengaruhi pemanfaatan Sungai Musi. Data diperoleh dari arsip kolonial, laporan pemerintah Hindia Belanda, dan peta historis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguasaan atas Sungai Musi mencerminkan dominasi kolonial atas Palembang, memungkinkan kontrol terhadap akses ekonomi, transportasi, dan infrastruktur kota. Status gemeente memberi wewenang lebih luas dalam pengelolaan tata ruang, termasuk penimbunan anak sungai seperti Sungai Tengkuruk dan Sungai Kapuran guna memperluas daratan kota dan menciptakan kondisi lingkungan yang lebih baik. Studi ini berkontribusi dalam kajian sejarah maritim dengan menyoroti peran sungai dalam dinamika kolonialisme serta implikasinya terhadap transformasi ruang kota dan jalur perdagangan maritim di Palembang.
Copyrights © 2025