Penelitian ini membahas kesalahan morfologi dalam komunikasi santri yang berasal dari berbagai daerah. Faktor utama penyebab kesalahan berbahasa adalah pengaruh dialek daerah, penggunaan bahasa lisan informal, serta ketidaktepatan dalam afiksasi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik observasi untuk mengumpulkan data dari percakapan santri di lingkungan pondok pesantren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesalahan berbahasa yang sering ditemukan meliputi penggunaan bentuk tidak baku akibat pengaruh dialek daerah, seperti "nyapuin" (seharusnya "menyapu"), penyederhanaan kata dalam bahasa lisan informal, seperti "jelasin" (seharusnya "menjelaskan"), serta kesalahan dalam afiksasi, seperti "menghapalkan" (seharusnya "menghafal"). Meskipun dalam percakapan sehari-hari bentuk tidak baku ini sering digunakan, pemahaman terhadap bahasa baku tetap penting, terutama dalam konteks akademik dan keagamaan. Dengan meningkatkan kesadaran santri terhadap kaidah bahasa Indonesia yang benar, diharapkan komunikasi mereka menjadi lebih efektif dan sesuai dengan standar kebahasaan.
Copyrights © 2025