Suku Batak dikenal sebagai kelompok etnis yang menjunjung tinggi nilai pendidikan dan memiliki semangat merantau sebagai bagian dari upaya mencapai kemajuan hidup. Banyak mahasiswa Batak yang merantau ke kota-kota besar seperti Bandung untuk menempuh pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Namun, proses perantauan ini tidak hanya membawa perubahan geografis, tetapi juga menuntut penyesuaian terhadap perbedaan budaya, salah satunya dalam aspek kuliner. Mahasiswa perantau Batak kerap mengalami culture shock akibat perbedaan cita rasa, kebiasaan makan, dan norma sosial antara kuliner khas Batak dan kuliner Sunda yang mendominasi lingkungan UPI. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan fenomena culture shock, (2) menelisik pengalaman culture shock yang dialami oleh mahasiswa perantau Batak dalam konteks budaya kuliner, serta (3) mengemukakan strategi adaptasi yang dilakukan untuk mengatasi tantangan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara mendalam terhadap mahasiswa UPI asal Batak yang sebelumnya berdomisili di wilayah Sumatera. Wawancara dilakukan secara terbuka dengan panduan pertanyaan terstruktur dan dianalisis menggunakan pendekatan tematik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika adaptasi budaya mahasiswa perantau serta menjadi kontribusi bagi upaya menciptakan lingkungan kampus yang lebih inklusif dan suportif.
Copyrights © 2025