Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna simbolik Dengke Simundur-Undur dalam upacara adat Batak Toba melalui pendekatan semiotika. Dengke Simundur-Undur, atau ikan yang berenang mundur, merupakan simbol penting yang digunakan dalam prosesi adat, terutama dalam konteks pemberian ulos atau penyambutan tamu kehormatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitik, serta mengacu pada teori semiotika Charles Sanders Peirce yang membagi tanda menjadi ikon, indeks, dan simbol. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara dengan tokoh adat, dan studi dokumentasi terhadap pelaksanaan upacara di beberapa wilayah Batak Toba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dengke Simundur-Undur bukan hanya simbol penghormatan, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai filosofis masyarakat Batak Toba seperti kerendahan hati, penghormatan terhadap leluhur, dan prinsip Dalihan Na Tolu. Dalam struktur tanda, ikan tersebut berfungsi sebagai simbol budaya yang membawa pesan moral dan spiritual. Temuan ini menegaskan bahwa simbol-simbol lokal dalam tradisi adat tidak sekadar elemen dekoratif, melainkan sarat akan makna sosial dan kultural yang penting untuk dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya takbenda.
Copyrights © 2025