Kesiapan sekolah pada anak usia dini berkorelasi dengan sejumlah kemampuan yang meliputi fungsi eksekutif, keterampilan persepsi motorik dan visual, serta pemrosesan sensorik dan karakteristik perkembangan ini penting untuk keberhasilan di kemudian hari. Salah satu kemampuan yang harus dimatangkan adalah kemampuan sensori motorik pada anak. Namun yang terjadi pada saat ini banyak anak yang mengalami gangguan sensori motorik pasca Covid 19. Menurut data statistik yang dipublikasikan Kemenko PMK pada Juni 2022, angka kisaran disabilitas anak usia 5-19 tahun adalah 3,3% .Selama pandemi Covid-19, anak-anak harus tinggal di rumah. Anak tidak banyak melakukan aktivitas yang banyak melibatkan sensori seperti menyentuh, menjilat, melempar dan melakukan banyak gerakan untuk menstimulasi motorik halus dan motorik kasarnya sehingga berdampak pada terhambatnya tumbuh kembang anak. Metode penelitian ini adalah metode kualitatif dan metode yang digunakan adalah literatur review, yaitu metode kepustakaan. Penelitian yang di lakukan oleh Piek et al. menyatakan perkembangan motorik sebagai landasan pembelajaran, khususnya dalam menumbuhkan rasa percaya diri dan disiplin diri pada anak selama melakukan kegiatan pembelajaran. Hal ini sejalan juga dengan konsep piramida pembelajaran (Pyramid of Learning), dimana sebelum kemampuan kognitif matang dibutuhkan pematangan dahulu sensori motoriknya, jika tidak matang akan membuat anak tidak mampu duduk lama dan memiliki atensi yang pendek.
Copyrights © 2025