AbstractThis study aims to determine how the Holy Qur'an and Tripitaka respond to the phenomena of blasphemy. This study employs a qualitative research method with a library approach to achieve this purpose. The data originated from two sources: primary sources and secondary sources. This study used a descriptive-comparative analysis model to analyze the data. The study's findings reveal an agreement prohibiting the reviling, insulting, and degrading of the noble values held by each religion. In terms of how the two holy scriptures respond to blasphemers, they have distinct and often opposing narratives. The Qur'an promotes a rigid approach, but the Tripitaka suggests correcting erroneous interpretations for perpetrators of religious distortion.Keywords: Al-qur’an; Blasphemy; Comparative; Tripitaka. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menemukan perspektif kitab suci al-Qur’an dan Tripitaka dalam merespon fenomena penistaan agama. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tekhnik pustaka. Data-data yang menjadi otoritas penelitian ditemukan melalui dua sumber, yakni sumber primer dan sumber sekunder. Sebagai pisau analisa data, penelitian ini menggunakan model analisis deskriptif-komparatif. Dari pengkajian yang telah dilakukan, ditemukan hasil berupa kesepakatan larangan mencaci, menghina dan merendahkan konsep luhur yang diyakini oleh setiap agama. Terhadap respon bagi pelaku penistaan agama, kedua kitab suci memiliki narasi khas yang cenderung berbeda. Al-qur’an lebih menekankan kepada sikap tegas, sementara Tripitaka menganjurkan untuk memberikan koreksi terhadap interpretasi yang keliru bagi pelaku pendistorsian agama. Kata Kunci: Al-qur’an; Komparatif; Penistaan Agama; Tripitaka.
Copyrights © 2024