Sisindiran merupakan puisi lama yang dilestarikan dalam budaya Sunda. Sisindiran biasanya digunakan sebagai alat penyampai amanat di prosesi serah terima pengantin. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pemerolehan data dilakukan dengan metode simak, dengan teknik sadap, simak bebas libat cakap. Analisis data menggunakan metode padan, yang mencakup teknik dasar dan lanjutan serta analisis kontekstual yang mengaitkan data dengan situasi sosial yang relevan. Penelitian ini menganalisis 19 sisindiran dalam konteks pernikahan Sunda dari segi struktur, makna, dan aspek sosiolinguistik. Secara struktur, semua sisindiran berbentuk pantun berima a-b-a-b dengan rima sempurna maupun tak sempurna dan sampiran yang umumnya tidak terkait langsung dengan isi. Secara semantik, sisindiran mengandung makna litotes, hiperbolis, humor, ejekan, hingga sindiran vulgar. Secara sosiolinguistik, sisindiran mencerminkan karakter masyarakat Sunda yang handap asor, someah ka semah, suka bercanda (ngabanyol), berbasa-basi (malapah gedang), hingga menggunakan humor jorang untuk mencairkan suasana. Sisindiran berfungsi sebagai ekspresi budaya yang mengandung nilai kesantunan dan keakraban dalam komunikasi. Keywords: sisindiran, pernikahan, adat Sunda AbstractSisindiran is a traditional form of poetry preserved in Sundanese culture. It is commonly used as a medium for conveying messages during the wedding handover ceremony. This study employs a descriptive qualitative approach. Data were collected through observation methods, including elicitation, non-participant observation, and recording techniques. Data were analyzed using the padan method, which includes both basic and advanced techniques, along with contextual analysis that links the data to relevant social situations. The study analyzes 19 sisindiran used in Sundanese wedding contexts from the perspectives of structure, meaning, and sociolinguistic aspects. Structurally, all sisindiran follow the a-b-a-b rhyme scheme, featuring both perfect and imperfect rhymes, with sampiran (opening lines) typically unrelated in meaning to the isi (main lines). Semantically, the sisindiran convey messages of litotes, hyperbole, humor, teasing, and even vulgar innuendo. Sociolinguistically, they reflect key Sundanese cultural traits such as handap asor (humility), someah ka semah (hospitality), fondness for humor (ngabanyol), polite small talk (malapah gedang), and the use of mildly vulgar humor (jorang) to lighten the mood. Thus, sisindiran serve as a cultural expression rich in politeness and warmth in communication. Keywords: sisindiran, wedding, Sundanese culture
Copyrights © 2025