Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SISINDIRAN DALAM PROSESI SERAH TERIMA PENGANTIN ADAT SUNDA Darmawan, Arief; Kadyrov, Nurtilek
SUSASTRA: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya Vol 14, No 1 (2025): Susastra: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya (Juni 2025)
Publisher : HISKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/susastra.v14i1.266

Abstract

Sisindiran merupakan puisi lama yang dilestarikan dalam budaya Sunda. Sisindiran biasanya digunakan sebagai alat penyampai amanat di prosesi serah terima pengantin. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pemerolehan data dilakukan dengan metode simak, dengan teknik sadap, simak bebas libat cakap. Analisis data menggunakan metode padan, yang mencakup teknik dasar dan lanjutan serta analisis kontekstual yang mengaitkan data dengan situasi sosial yang relevan. Penelitian ini menganalisis 19 sisindiran dalam konteks pernikahan Sunda dari segi struktur, makna, dan aspek sosiolinguistik. Secara struktur, semua sisindiran berbentuk pantun berima a-b-a-b dengan rima sempurna maupun tak sempurna dan sampiran yang umumnya tidak terkait langsung dengan isi. Secara semantik, sisindiran mengandung makna litotes, hiperbolis, humor, ejekan, hingga sindiran vulgar. Secara sosiolinguistik, sisindiran mencerminkan karakter masyarakat Sunda yang handap asor, someah ka semah, suka bercanda (ngabanyol), berbasa-basi (malapah gedang), hingga menggunakan humor jorang untuk mencairkan suasana. Sisindiran berfungsi sebagai ekspresi budaya yang mengandung nilai kesantunan dan keakraban dalam komunikasi. Keywords: sisindiran, pernikahan, adat Sunda AbstractSisindiran is a traditional form of poetry preserved in Sundanese culture. It is commonly used as a medium for conveying messages during the wedding handover ceremony. This study employs a descriptive qualitative approach. Data were collected through observation methods, including elicitation, non-participant observation, and recording techniques. Data were analyzed using the padan method, which includes both basic and advanced techniques, along with contextual analysis that links the data to relevant social situations. The study analyzes 19 sisindiran used in Sundanese wedding contexts from the perspectives of structure, meaning, and sociolinguistic aspects. Structurally, all sisindiran follow the a-b-a-b rhyme scheme, featuring both perfect and imperfect rhymes, with sampiran (opening lines) typically unrelated in meaning to the isi (main lines). Semantically, the sisindiran convey messages of litotes, hyperbole, humor, teasing, and even vulgar innuendo. Sociolinguistically, they reflect key Sundanese cultural traits such as handap asor (humility), someah ka semah (hospitality), fondness for humor (ngabanyol), polite small talk (malapah gedang), and the use of mildly vulgar humor (jorang) to lighten the mood. Thus, sisindiran serve as a cultural expression rich in politeness and warmth in communication. Keywords: sisindiran, wedding, Sundanese culture
ASUMSI ONTOLOGIS DALAM PENELITIAN BAHASA: REALITAS BAHASA SEBAGAI FENOMENA EKSISTENSIAL Kadyrov, Nurtilek; Baehaqie, Imam; Yuniawan, Tommi
Linguistik : Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 10, No 4 (2025): LINGUISTIK: Jurnal Bahasa dan Sastra
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/linguistik.v10i4.489-496

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis asumsi ontologis yang mendasari penelitian bahasa kontemporer, dengan fokus pada realitas bahasa sebagai fenomena eksistensial. Pendekatan kualitatif diterapkan melalui analisis filosofis hermeneutis terhadap literatur primer fenomenologi eksistensial serta studi empiris linguistik kontemporer yang relevan. Hasil analisis menunjukkan bahwa asumsi ontologis dalam penelitian bahasa terbagi ke dalam tiga paradigma utama: realisme linguistik, yang memandang bahasa sebagai objek independen dengan struktur yang objektif; konstruktivisme sosial, yang menekankan bahasa sebagai konstruksi yang terbentuk melalui interaksi sosial dan konteks budaya; serta fenomenologi eksistensial, yang memahami bahasa sebagai medium fundamental eksistensi manusia (being-in-the-world), berakar pada Dasein dan pengalaman embodied. Temuan ini menegaskan pentingnya kerangka metodologis yang reflektif, sensitif terhadap konteks historis dan sosial, serta filosofis-informed, untuk meningkatkan pemahaman mendalam tentang bahasa dalam penelitian linguistik kontemporer.