Penelitian ini difokuskan pada pengalaman individu dewasa awal yang menjadi korban perceraian orang tua, khususnya dalam konteks dinamika raos tatag. Berbeda dari konsep resiliensi Barat, "tatag" diartikan sebagai kesadaran untuk fokus menjalani hidup saat ini, melepaskan belenggu masa lalu, dan berani menerima kenyataan. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, penelitian ini melibatkan tiga subjek dewasa awal yang mengalami perceraian orang tua di masa kecil. Tujuan penelitian adalah memahami dinamika "raos tatag", pemaknaan perceraian, dan makna hidup subjek. Hasil menunjukkan bahwa pembentukan "raos tatag" melibatkan proses penerimaan dan dukungan. Subjek memaknai perceraian sebagai pelajaran hidup atau perjalanan. Kepemilikan "raos tatag" memungkinkan pengelolaan stres dan penemuan makna, meskipun beberapa dampak (seperti kesulitan percaya/komitmen) dapat tetap ada. Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian resiliensi melalui kearifan lokal Jawa.
Copyrights © 2025