Penelitian ini menyelidiki dilema pembelajaran digital di kalangan mahasiswa Indonesia terkait polarisasi antara kemudahan akses konten edukatif visual (Instagram/TikTok/YouTube) dan kedalaman pemrosesan informasi akademik, berdasarkan temuan pendahuluan bahwa >80% responden mengakses konten visual harian namun 65% mengalami penurunan minat baca teks panjang. Dengan desain kuantitatif deskriptif-korelasional, data dikumpulkan melalui kuesioner Likert valid (α=0.87) pada 50 mahasiswa S1 (56% perempuan; 72% usia 18-20 tahun) dianalisis secara statistik (SPSS 26.0) menggunakan korelasi Pearson, uji-t, dan ANOVA. Hasil mengungkap: (1) preferensi kuat terhadap konten visual (mean=4.12) berkorelasi negatif signifikan dengan kebiasaan membaca teks panjang (r=-0.58) dan kedalaman pemahaman (r=-0.37), (2) dampak lebih kritis pada perempuan (p=0.01), mahasiswa semester awal (r=-0.72), dan pengguna multitasking, (3) meski demikian, mahasiswa semester akhir menunjukkan ketahanan lebih tinggi (skor 3.92) melalui strategi adaptif seperti integrasi konten visual-tekstual. Simpulan penelitian mengonfirmasi eksistensi dilema "mudah dicerna vs sulit mendalam" yang bersumber pada mekanisme neuroplastisitas kompetitif, sekaligus merekomendasikan model Hybrid Learning Scaffolding (HLS) berbasis kurasi konten, literasi ganda, dan desain multimedia terpadu untuk mentransformasi konten visual menjadi jembatan menuju pemahaman mendalam.
Copyrights © 2025