Pemantauan hidrologi yang akurat menjadi poin penting dalam pengelolaan sumber daya air, terutama pada wilayah yang memiliki keterbatasan data pengamatan. Namun, tidak semua Daerah Aliran Sungai (DAS) memiliki data debit dan curah hujan yang lengkap karena keterbatasan alat pengamatan dan kelalaian pencatatan. Untuk mengatasi permasalahan ini, sudah banyak dimanfaatkan data satelit, salah satunya yaitu Climate Hazards Center InfraRed Precipitation with Station data (CHIRPS) yang dapat menjadi solusi alternatif dalam melengkapi data hujan yang tidak tersedia. Dalam penelitian ini, data curah hujan satelit CHIRPS digunakan sebagai input dalam pemodelan National Rural Electric Cooperative Association (NRECA) untuk mengestimasi debit air di DAS Gembong, Kabupaten Pasuruan, yang rawan kekeringan dan memiliki keterbatasan data hidrologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalibrasi data curah hujan satelit CHIRPS menghasilkan nilai NSE sebesar 0.683, yang dikategorikan sebagai "Baik", dan Koefisien Korelasi sebesar 0.832, yang dikategorikan sebagai "Sangat Kuat". Sementara itu, hasil kalibrasi dan validasi debit model NRECA dengan data debit AWLR menunjukkan bahwa skenario terbaik diperoleh pada komposisi 15:5 (15 tahun untuk kalibrasi dan 5 tahun untuk validasi) dengan nilai NSE sebesar 0.999 untuk kalibrasi (kategori "Sangat Baik") dan 0.538 untuk validasi (kategori "Memenuhi"), serta Koefisien Korelasi masing-masing sebesar 0.999 dan 0.718 (kategori "Sangat Kuat" dan "Kuat"). Dengan demikian, NRECA dapat digunakan sebagai alternatif dalam memperkirakan debit pada DAS yang memiliki data pengamatan yang kurang atau bahkan tidak punya sama sekali. Hal ini berpotensi meningkatkan efektivitas pengelolaan sumber daya air di DAS terkait.
Copyrights © 2025