Remaja merupakan kelompok usia dengan awitan epilepsi tertinggi secara global. Terdapat 30–35% kasus epilepsi pada anak dan remaja di Indonesia pertama kali terdeteksi saat berada di sekolah, baik saat kegiatan belajar, olahraga, maupun saat istirahat, namun banyak kasus yang tidak terdiagnosis dan tidak mendapatkan perawatan yang memadai. Kurangnya pemahaman tentang epilepsi pada remaja di sekolah menyebabkan remaja melakukan pertolongan pertama dengan salah saat melihat temannya mengalami kejang sehingga membahayakan keselamatan penderita epilepsy. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman remaja di sekolah mengenai epilepsi melalui edukasi kesehatan sebagai bagian dari upaya promotif dalam kesehatan jiwa. Kegiatan dilaksanakan di salah satu sekolah jenjang Madrasah Aliyah di wilayah Kabupaten Mojokerto, dengan melibatkan 85 siswa. Metode edukasi dilakukan melalui ceramah, diskusi interaktif, dan simulasi penanganan epilepsi di sekolah. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test guna mengukur peningkatan pengetahuan siswa. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan siswa tentang epilepsi, terutama terkait mitos yang keliru, penanganan pertama saat kejang, serta pentingnya sikap empatik terhadap penderita epilepsi. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan berbasis sekolah efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan jiwa di kalangan remaja. Diharapkan kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif dan suportif bagi semua individu, khususnya yang memiliki kondisi neurologis seperti epilepsi.
Copyrights © 2025