Penafsiran Al-Qur'an seringkali diperkaya dengan riwayat Isrāʾīliyyāt untuk melengkapi narasi yang bersifat global. Imam at-Ṭabarī, dalam magnum opus-nya Jami' al-Bayan, banyak mencantumkan riwayat semacam ini, salah satunya pada kisah ujian Nabi Sulaiman dalam Sūrah Ṣād ayat 34. Penelitian ini melampaui kritik tradisional terhadap Isrāʾīliyyāt tersebut. Dengan menggunakan kerangka hermeneutika kritis yang memadukan "hermeneutika curiga" dan "hermeneutika pemulihan", artikel ini mengajukan tesis bahwa pencantuman riwayat-riwayat problematis oleh at-Ṭabarī bukanlah sebuah kelemahan metodologis, melainkan sebuah tindakan intelektual yang sadar. At-Ṭabarī secara sengaja mewariskan ketegangan hermeneutis antara pelestarian tradisi periwayatan (naql) dan penjagaan integritas teologis ('aql). Melalui analisis komparatif dengan mufasir pasca-nya (seperti Ibn Kathīr dan al-Rāzī) dan analisis lintas-disiplin terhadap motif sastra, penelitian ini menunjukkan bahwa kasus Sūrah Ṣād: 34 berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan dinamika kompleks dalam pembentukan otoritas dan wacana Tafsīr dalam Islam klasik. Hasilnya, at-Ṭabarī tidak hanya dipandang sebagai kolektor, tetapi juga sebagai seorang arsiparis jenius yang memetakan seluruh spektrum pemikiran pada masanya untuk diinterogasi oleh generasi selanjutnya.
Copyrights © 2025