Goldziher, seorang orientalis barat yang memiliki pandangan bahwa praktik dan tradisi yang dikenal sebagai sunnah Nabi Muhammad SAW sebenarnya berasal dari adat istiadat masyarakat Arab pra-Islam yang kemudian diserap ke dalam ajaran Islam. Kebiasaan-kebiasaan ini, seiring waktu, menjadi bagian integral dari kehidupan umat Islam secara luas. Namun, ketika masyarakat Muslim pada abad kedua Hijriyah mulai mengklaim bahwa tradisi-tradisi ini adalah contoh langsung dari Nabi Muhammad SAW, Goldziher merasa ragu dan kesulitan untuk menerima hadis sebagai catatan otentik dari kehidupan Nabi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan analisis literatur terhadap karya-karya Ignaz Goldziher yang mengkritik literatur hadis. Selain itu, metode historis (historical method) juga diterapkan untuk memahami pemikiran Goldziher dalam fase-fase perkembangan intelektualnya. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengkaji secara mendalam argumen-argumen Goldziher dan konteks di baliknya. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pemikiran Goldziher cenderung skeptis terhadap otentisitas hadis. Meskipun ia mengakui bahwa praktik keagamaan umat Islam didasarkan pada hadis Nabi, ia tetap meragukan keotentikannya sampai terbukti benar-benar berasal dari Nabi. Keraguan Goldziher ini bahkan didukung dan dikembangkan oleh orientalis lain seperti Joseph Schacht. Dua poin utama yang ditekankan Goldziher adalah masalah titik awal kodifikasi hadis dan peran Imam al-Zuhri
Copyrights © 2025