Penyakit Parkinson merupakan gangguan neurodegeneratif yang ditandai dengan berkurangnya fungsi motorik akibat degenerasi neuron dopaminergik di otak. Salah satu komplikasi yang sering terjadi pada pasien Parkinson yang menjalani terapi levodopa jangka panjang adalah fenomena wearing-off, di mana efek obat berkurang sebelum dosis berikutnya diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali fenomena wearing-off pada pasien Parkinson dan penanganannya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif dengan studi kasus pada pasien berusia 66 tahun yang telah menjalani terapi levodopa selama tujuh tahun. Data diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, serta penggunaan Wearing-Off Questionnaire (WOQ-9) untuk menilai gejala wearing-off. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien mengalami wearing-off dengan gejala motorik seperti tremor, kekakuan, dan bradikinesia yang muncul kembali setelah 2-3 jam setelah mengonsumsi levodopa. Penyesuaian dosis obat, termasuk peningkatan frekuensi pemberian levodopa dan penambahan dosis pramipexol, dilakukan untuk mengatasi gejala tersebut. Pembahasan menekankan pentingnya penyesuaian dosis dan penggunaan terapi adjuvan untuk memperpanjang efek levodopa, serta penggunaan instrumen WOQ-9 sebagai alat diagnostik yang efektif. Kesimpulannya, pengelolaan wearing-off memerlukan pendekatan individual yang melibatkan pemantauan gejala secara berkala dan penyesuaian dosis obat yang tepat, untuk meningkatkan kualitas hidup pasien Parkinson.
Copyrights © 2025