Yogyakarta kini menghadapi permasalahan besar terkait penumpukan sampah akibat penutupan TPA Piyungan. Kabupaten Sleman tercatat sebagai wilayah penyumbang terbanyak, mencapai sekitar 320 ton sampah per hari seiring dengan pertumbuhan penduduk. Untuk mengurangi beban tersebut, hadir program Bank Sampah sebagai salah satu solusi. Program ini mendorong masyarakat memilah sampah agar dapat diolah menjadi pupuk, bahan daur ulang, atau kerajinan tangan. Dengan demikian, volume sampah berkurang sekaligus memberi nilai ekonomi tambahan bagi warga. Contoh nyata dari program ini adalah Bank Sampah APEL yang berdiri sejak 2010 di Condongcatur, Sleman. APEL berhasil membantu menekan jumlah sampah dan meraih penghargaan atas kontribusinya. Melalui penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), APEL mampu menumbuhkan kesadaran lingkungan serta mengajak masyarakat menjaga kebersihan. Meski demikian, tantangan masih dihadapi, terutama dalam hal pengelolaan yang masih manual serta minimnya promosi digital. Untuk menjawab kendala tersebut, dilakukan program pengabdian masyarakat yang berfokus pada digitalisasi manajemen dan penguatan promosi daring. Pelatihan yang diberikan meliputi pengenalan aplikasi, disertai pembuatan konten media sosial sebagai sarana publikasi. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan. Sistem manajemen APEL menjadi lebih efisien, sementara promosi melalui media sosial mampu menjangkau lebih banyak masyarakat. Para pengurus memperoleh keterampilan baru terkait teknologi dan komunikasi digital. Secara keseluruhan, pendampingan ini memperkuat posisi APEL sebagai pionir pengelolaan sampah berbasis masyarakat, meningkatkan efektivitas kerja, dan memperluas partisipasi publik.
Copyrights © 2025