Progam sekolah penggerak beupaya mewujukan pendidikan holistik yang mencangkup kognitif, karakter an kepribadian sswa. Inisiatif tersebut meiputi implementasi kurikulum berbasis proyek profil pelajar pancasila, pelatihan guru dan kepala sekolah, pendampingan, serta pemanfaatan teknologi. Namun, analisis wacana kritis Norman Fairlcaugh serta konsep hegemoni neoliberalisme. nalisis menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan dalam diskursus Sekolah Penggerak (misalnya, penekanan pada "kompetensi" dan "inovasi") secara halus dapat mereplikasi nilai-nilai pasar yang berorientasi hasil, berpotensi mengaburkan tujuan pengembangan karakter yang lebih luas. Selain itu, inisiatif seperti penyediaan platform teknologi dapat memperkuat struktur sosial yang ada jika akses tidak merata, memperlebar kesenjangan digital dan sosial-ekonomi. Terakhir, kontrol kapitalistik dapat termanifestasi melalui pendekatan manajerial dalam pelatihan guru dan kepala sekolah, serta penekanan pada keterampilan yang relevan dengan pasar kerja dalam kurikulum berbasis proyek.
Copyrights © 2025