Kisah Naaman, seorang perwira Aram yang disembuhkan dari penyakit kusta dalam 2 Raja-Raja 5, memperoleh makna teologis yang lebih mendalam ketika Yesus menyebutnya dalam Lukas 4:27 sebagai satu-satunya yang disembuhkan pada zaman nabi Elisa. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah hubungan intertekstual antara kedua perikop tersebut melalui pendekatan teologi naratif dan intertekstualitas biblika. Fokus utama diarahkan pada eksplorasi makna teologis dari penyebutan tokoh non-Israel oleh Yesus, sekaligus implikasinya terhadap konsep universalitas anugerah Allah yang melampaui batas etnis, nasional, dan religius. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penyembuhan Naaman bukan sekadar mukjizat fisik, melainkan simbol keterbukaan keselamatan Allah bagi semua bangsa yang bersedia percaya dan taat kepada-Nya. Dengan mengutip kisah Naaman, Yesus menantang eksklusivisme religius yang sering kali membatasi karya Allah hanya pada kelompok tertentu, serta menyatakan inklusivitas misi Kerajaan Allah yang bersifat lintas batas dan transformatif. Narasi ini juga memperlihatkan bahwa karya keselamatan Allah sejak Perjanjian Lama sudah diarahkan pada pemulihan universal, yang mencapai puncaknya dalam pelayanan Yesus Kristus. Dengan demikian, kisah Naaman menegaskan pentingnya gereja masa kini untuk mewujudkan misi yang terbuka, kontekstual, dan inklusif, sebagai respons terhadap kasih karunia Allah yang tidak terbatas oleh kebangsaan, budaya, maupun tradisi keagamaan tertentu.
Copyrights © 2024