Kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang sering dijumpai pada wanita dan penyebab utama kematian di negara berkembang, termasuk Indonesia. Kemoterapi berbasis cisplatin merupakan terapi standar, namun penggunaannya dibatasi oleh toksisitas yang bergantung pada dosis, seperti nefrotoksisitas, neurotoksisitas, dan kardiotoksisitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek sinergis kombinasi nanokurkumin dan cisplatin terhadap tingkat apoptosis dan ekspresi Protein Kinase B (AKT) pada sel HeLa. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan desain post-test only control group, dengan kelompok kontrol negative (media standar), kontrol positif monoterapi cisplatin (5 dan 2,5 µg/mL), nanokurkumin (100 µg/mL), serta kombinasi cisplatin 2,5 µg/mL dan nanokurkumin berbagai dosis (25, 50, dan 100 µg/mL). Uji flow cytometry digunakan untuk menganalisis tingkat apoptosis dan ekspresi AKT setelah 48 jam inkubasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi cisplatin 2,5 µg/mL dan nanokurkumin 100 µg/mL menyebabkan apoptosis (75,23%) pada sel HeLa yang sebanding (p<0.05) dengan efek cisplatin tunggal 5 µg/mL (76,15%) serta secara signifikan (p<0,05) menurunkan ekspresi AKT pada sel HeLa (76,53%) dibanding cisplatin 5 µg/mL (97,18%) serta cisplatin 2,5 µg/mL (97,24%). Peningkatan apoptosis dan penurunan ekspresi AKT menunjukkan potensi terapi kombinasi ini dalam mengurangi dosis cisplatin yang diperlukan dengan harapan dapat menurunkan toksisitas.
Copyrights © 2025