Tasawuf tidak hanya berkaitan dengan laku spiritual dan kesalehan personal, tetapi juga memiliki dimensi epistemologis yang penting dalam membentuk cara pandang terhadap ilmu dan pengalaman keagamaan. Penelitian ini mengkaji pemikiran KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha') tentang tasawuf dari sisi epistemologis, dengan menyoroti bagaimana beliau memposisikan ilmu sebagai jalan spiritual dalam kerangka tradisi pesantren. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi tokoh dan analisis isi terhadap ceramah-ceramah Gus Baha’ di berbagai media digital, khususnya YouTube, serta literatur yang relevan tentang epistemologi tasawuf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gus Baha’ memandang ilmu bukan sekadar alat untuk memahami syariat, tetapi sebagai sarana penyucian jiwa dan pendekatan diri kepada Allah. Selain itu, Gus Baha’ juga menekankan pentingnya logika sehat dan sanad keilmuan sebagai fondasi dalam pencarian spiritual. Pandangan ini selaras dengan tradisi tasawuf klasik yang mencerminkan kesinambungan antara ilmu, iman, dan ihsan. Dengan demikian, pemikiran Gus Baha’ membuka peluang reinterpretasi terhadap peran ilmu dalam pendidikan pesantren yang tidak hanya mencetak ahli hukum, tetapi juga hamba yang arif.
Copyrights © 2025