Penelitian ini mengkaji ritus mulang ayik pada etnik Rejang di Desa Kota Agung, Kecamatan Bermani Ilir, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Ritus ini merupakan prosesi adat pemandian bayi berusia 40 hari yang sarat simbol dan makna, mencerminkan rasa syukur, doa, serta harapan orang tua kepada Tuhan agar anak tumbuh sehat, taat agama, berkarakter positif, dan menjadi kebanggaan keluarga. Penelitian bertujuan mendeskripsikan bentuk, makna, dan fungsi simbolik dalam prosesi mulang ayik. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya 20 jenis perlengkapan adat seperti slo, hikmah mageh bayi, pacuh, kebaya bep, dan lainnya, yang masing-masing mengandung simbol religius, sosial, dan kultural. Prosesi terdiri dari tahap awal (pelaporan dan persiapan), tahap inti (pemandian bayi di sungai atau tempat khusus), dan tahap akhir (doa syukur serta makan bersama). Secara fungsional, ritus ini memenuhi kebutuhan biologis, sosial, dan simbolik keagamaan, sekaligus mempererat solidaritas dan mempertahankan identitas budaya Rejang. Penelitian ini menegaskan pentingnya pelestarian mulang ayik sebagai warisan budaya lokal yang terancam oleh arus modernisasi.
Copyrights © 2025