Suatu perkerasan jalan dinilai gagal berdasarkan 2 kriteria yaitu regangan tarik dan deformasi plastis atau deformasi permanen. Deformasi perkerasan jalan dapat diestimasi berdasarkan pengujian laboratorium baik dengan pembebanan statis maupun pembebanan berulang. Deformasi yang didapatkan kemudian di korelasikan agar diketahui parameter mekanistik campuran aspal AC-WC. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen yang dilakukan di Laboratorium Bahan Perkerasan Jalan untuk mengetahui deformasi yang terjadi berdasarkan uji ITS dan WTM dengn variasi suhu pengujian 25°C dan 60°C. Pengujian dilakukan dengan menggunakan KAR (5,8%) dengan temperatur pengujian 25˚C dan 60˚C. Nilai koefisien korelasi pada suhu pengujian 25°C dan 60°C menunjukkan hubungan yang kuat (koefisien korelasi 0,8). Deformasi yang terjadi akibat beban statis akan meningkat secara linear berbarengan dengan peningkatan ITS sampai dengan batas elastisnya, begitu juga dengan deformasi yang terjadi akibat beban berulang, dimana deformasi semakin bertambah dengan meningkatnya siklus pembebanan pada pengujian WTM. Adapun korelasi yang terjadi cukup kuat, dimana pada suhu pengujian 25°C berkorelasi negatif sedangkan pada suhu pengujian 60°C berkorelasi positif.
Copyrights © 2024