Fenomena menjamurnya coffee shop pascabencana 2018 di Kota Palu memperlihatkan dinamika spasial dan sosial yang khas. Studi ini menganalisis pola aglomerasi coffee shop menggunakan Nearest Neighbor Analysis (NNA) dan Kernel Density Estimation (KDE) terhadap 170 titik usaha, dipadukan dengan wawancara mendalam dan observasi partisipatif. Hasil menunjukkan distribusi yang mengelompok (R < 1; z-score negatif signifikan), dengan hotspot utama di Kecamatan Palu Timur dan klaster sekunder di Mantikulore, sementara Tatanga dan Palu Utara cenderung minim aktivitas. Secara kualitatif, coffee shop berfungsi sebagai third place yang memfasilitasi jejaring komunitas, pemulihan emosi, sirkulasi informasi, dan peluang ekonomi kreatif—membentuk infrastruktur sosial yang melengkapi rekonstruksi fisik kota. Temuan menegaskan bahwa aglomerasi coffee shop berkontribusi ganda: (1) memicu vitalitas ekonomi kawasan (virtuous cycle kunjungan–usaha baru), dan (2) memperkuat resiliensi sosial melalui social healing dan modal sosial. Rekomendasi kebijakan meliputi pengarusutamaan klaster ekonomi kreatif dalam strategi pemulihan, kemudahan perizinan UMK, dan penguatan ruang publik pendukung di sekitar hotspot.
Copyrights © 2025