This study aims to analyze the decision-making mechanism of the principal in implementing a Management Information System (MIS) in the financial sector to support transparency and accountability in SMA Negeri 3 Padang Panjang. This research uses a descriptive qualitative method with data collection techniques including interviews, observation, and documentation. The results show that the principal began by forming a finance team consisting of a salary treasurer, a BOS (School Operational Assistance) treasurer, and a committee treasurer. To ensure accountability, the principal also established an internal audit team to review each treasurer's financial report monthly before submission to the principal. The preparation of the School Activity and Budget Plan (RKAS) was conducted transparently through a school workshop involving parents, community representatives, the school committee, teachers, and staff. Teachers submitted activity proposals, which were then analyzed for budget needs and compiled into the RKAS. This process illustrates a participatory, transparent, and accountable financial management system supported by the use of MIS as a key decision-making tool. These findings imply that effective MIS implementation and stakeholder involvement can strengthen financial governance in schools. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme pengambilan keputusan kepala sekolah dalam implementasi Sistem Informasi Manajemen (SIM) pada bidang keuangan guna mendukung transparansi dan akuntabilitas di lingkungan SMA Negeri 3 Padang Panjang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah mengambil langkah strategis dengan membentuk tim keuangan yang terdiri atas bendahara gaji, bendahara Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan bendahara komite. Untuk menjamin akuntabilitas, kepala sekolah juga membentuk tim audit internal yang melakukan audit laporan keuangan bulanan sebelum diserahkan kepada kepala sekolah. Proses perencanaan anggaran dilakukan secara partisipatif melalui lokakarya sekolah yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, seperti wali murid, tokoh masyarakat, komite sekolah, guru, dan tenaga kependidikan. Guru sebagai pelaksana kegiatan diberikan ruang untuk mengajukan proposal kegiatan yang kemudian dianalisis bersama guna menyusun Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS). Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi SIM dalam pengelolaan keuangan sekolah berkontribusi terhadap terciptanya sistem yang transparan, partisipatif, dan akuntabel. Implikasi dari temuan ini menekankan pentingnya peran kepemimpinan kepala sekolah dan kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam mewujudkan tata kelola keuangan pendidikan yang efektif dan terpercaya.
Copyrights © 2025