Penelitian ini menganalisis representasi penggunaan bahasa Suroboyoan dalam film "Sekawan Limo," yang diproduksi oleh Bayu Skak. Bahasa Suroboyoan, sebagai dialek khas Surabaya, berfungsi tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cerminan budaya dan identitas masyarakat Surabaya. Film ini menampilkan kehidupan sehari-hari masyarakat dengan dialog yang kaya akan ungkapan lokal, yang mencerminkan karakteristik dinamis dan solidaritas sosial. Melalui metode analisis semiotika Roland Barthes, penelitian ini mengeksplorasi makna konotatif dan denotatif dari bahasa yang digunakan dalam film, serta dampaknya terhadap pemahaman penonton non-Suroboyoan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film "Sekawan Limo" berperan penting dalam pelestarian bahasa daerah dan penguatan identitas lokal di tengah arus globalisasi.
Copyrights © 2025