Artikel ini membahas tanggung jawab dan konsekuensi yang dihadapi hamba Tuhan dalam menyuarakan kebenaran berdasarkan Yehezkiel 3:16–21. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-eksegetikal dengan pendekatan teologi biblika untuk menafsirkan mandat kenabian Yehezkiel sebagai “penjaga” atas Israel. Melalui analisis teks dan refleksi teologis, ditemukan bahwa Yehezkiel bukan hanya diperintahkan untuk menyampaikan peringatan Allah, tetapi juga menanggung akibat jika ia diam. Penelitian ini menunjukkan bahwa Allah menuntut pertanggungjawaban bukan hanya atas ketaatan, tetapi juga atas jiwa-jiwa yang binasa karena kelalaian hamba-Nya. Kesimpulannya, para pelayan Tuhan masa kini harus berani menyampaikan kebenaran secara setia, walau menghadapi penolakan. Kelalaian dalam menjalankan tugas ini dapat berdampak secara rohani dan etis di hadapan Allah. Kajian ini juga memberikan implikasi praktis bagi pemimpin gereja masa kini untuk bertindak sebagai penjaga rohani dalam membimbing jemaat menuju pertobatan dan kebenaran.
Copyrights © 2025