Tikungan bersimpang mempunyai resiko tinggi bagi pengendara kendaraan, karena jarak pandang terbatas, titik konflik yang lebih banyak dibandingkan pada jalan lurus. Kondisi dijumpai pada jalan Bireuen–Panton Labu (Km 321+700 – Km 322+100). Berdasarkan keadaan tersebut maka dilakukan penelitian pada persimpangan jalan tersebut, tujuan untuk mengetahui kondisi geometrik jalan pada tikungan dan jenis tikungan. Pengukuran menggunakan alat thedolit dan water pass, Evaluasi berpedoman pada metode Bina Marga tahun 1997. Kecepatan kendaraan dengan pengamatan secara langsung di lapangan. Hasil pengamatan data diperoleh geometrik pada tikungan 1 (PI1) jenis tikungan SCS, emak = 3% kecepatan = 35 km/jam, nilai Lc = 6,941 m20 m, jarak pandang henti = 36,754 m dan jarak pandang minimum = 183,278 m pada tikungan 2 (PI2) jenis tikungan SCS, emak = 6% kecepatan = 36 km/jam, nilai Lc = 8,517 m20 m, jarak pandang henti = 38,273 m dan jarak pandang minimum = 188,944 m. Hasil tersebut dapat diketahui bahwa Lc tidak memenuhi syarat Lc20 m.
Copyrights © 2018