Limbah kulit kakao yang melimpah di Desa Nglanggeran belum dimanfaatkan dan menimbulkan pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas variasi model alat pirolisis terhadap kuantitas bioarang dan asap cair dari kulit kakao. Metode yang digunakan adalah eksperimen semu (quasi experiment) dengan desain post-test only without control group. Dua model alat diuji, yaitu model A (saluran asap siku 90°) dan model B (saluran asap melengkung 180°), masing-masing memproses 1.000 gram kulit kakao kering dengan enam kali pengulangan. Hasil menunjukkan bahwa model A menghasilkan rata-rata bioarang tertinggi sebesar 305,8 gram, sedangkan model B menghasilkan asap cair tertinggi sebesar 100,8 mililiter. Uji t-test menunjukkan perbedaan signifikan pada bioarang (p = 0,013), namun tidak signifikan pada asap cair (p = 0,088). Disimpulkan bahwa model A lebih efektif menghasilkan bioarang, sedangkan model B lebih efektif menghasilkan asap cair, sehingga desain alat pirolisis berpengaruh terhadap hasil pengolahan limbah kulit kakao.
Copyrights © 2026