Ada tradisi 'Yasinan dan Tahlilan', berkombinasi dengan 'tabligh musibah' untuk selama tiga hari di Kota Bengkulu. Jika tradisi 'yasinan dan tahlilan' dilakukan oleh tokoh agama/adat di sore hari dan ba'da maghrib. Maka, tabligh musibah oleh pemerintah setempat selama tiga malam. Uniknya, kombinasi dakwah kultural dan struktrual seperti itu tidak ada di daerah lainnya di Bengkulu, bahkan di luar daerah. Bagaimana eksistensi tradisi yasinan dan tahlilan sebagai dakwah kultural? Bagaimana eksistensi program 3 in 1 sebagai dakwah struktural? Lalu, bagaimana kombinasi keduanya sehingga berimplikasi terhadap kerukunan umat beragama? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif lapangan, dengan melakukan wawancara, observasi, dan telaah dokumentasi. Hasil penelitian: 1) Tradisi Yasinan dan Tahlilan sebagai dakwah kultural dikenal 'nigo arai', dan 'nujuh arai'. 2) Tabligh musibah merupakan intervensi kepedulian Pemerintah Daerah sebagai bentuk dakwah struktural selama tiga malam. Pada malam ketiga, pemerintah kota membagikan dokumen kependudukan. 3) Kombinasi dakwah kultural dan struktural jadi contoh bagi daerah lainnya
Copyrights © 2025