Era otonomi daerah pasca reformasi menuntut para pemimpin daerah mengembangkan strategi komunikasi politik yang adaptif dan responsif untuk membangun legitimasi kepemimpinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana Wali Kota Cirebon mengelola citra dan kepemimpinan di ruang publik melalui pendekatan dramaturgi komunikasi politik dengan tujuan mendeskripsikan penampilan citra kepemimpinan di front stage, mengungkap strategi komunikasi di backstage, serta menganalisis penerapan impression management dan role performance dalam membentuk persepsi publik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus yang melibatkan wawancara mendalam dengan pejabat pemerintah daerah, staf komunikasi, jurnalis lokal, dan akademisi melalui purposive sampling, dimana data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumen, kemudian dianalisis secara induktif dengan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan Wali Kota Cirebon menerapkan dramaturgi komunikasi politik secara komprehensif, dimana dalam front stage identitas kepemimpinan dibangun konsisten melalui kegiatan seremonial, interaksi media, dan platform digital dengan adaptasi sesuai audiens, sedangkan backstage menunjukkan profesionalisme tinggi melalui tim komunikasi terorganisir, perencanaan konten sistematis, dan manajemen krisis. Impression management dan role performance diterapkan melalui lima peran utama yaitu pemimpin visioner, bapak rakyat, administrator profesional, diplomat lokal, dan agen perubahan dengan transisi mulus antar peran sesuai konteks. Rekomendasi penelitian mencakup pengembangan model komunikasi politik berbasis dramaturgi untuk pemimpin daerah lain, peningkatan kapasitas tim komunikasi pemerintahan, dan adaptasi strategi komunikasi terhadap perkembangan teknologi digital, dimana temuan mengkonfirmasi relevansi teori dramaturgi Goffman dalam komunikasi politik modern dengan adaptasi terhadap kompleksitas era digital.
Copyrights © 2022