Kajian sastra bandingan ini mengeksplorasi persamaan dan perbedaan antara dua puisi kanonik Asia, yaitu "Padamu Jua" karya Amir Hamzah (Indonesia) dan "Chahan" karya Kim Sowol (Korea). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh terbatasnya studi komparatif yang mendalam terhadap kedua mahakarya tersebut, khususnya dalam hal struktur puitik dan konteks sosio-historisnya. Dengan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) yang diterapkan pada 15 artikel terpilih, penelitian ini menganalisis unsur-unsur pembangun puisi seperti diksi, citraan, dan majas, serta menelusuri kaitan teks dengan kondisi kolonial yang melatarbelakangi kelahirannya. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa meskipun kedua puisi sama-sama merepresentasikan respons terhadap penindasan kolonial—"Padamu Jua" melalui spiritualitas transendental dan "Chahan" melalui ekspresi han (kepedihan kolektif)—mereka mengembangkan strategi estetika dan struktur puitik yang berbeda secara signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kedua puisi tersebut tidak hanya menjadi media resistensi kultural, tetapi juga menawarkan model modernitas vernakular yang berakar pada tradisi lokal. Implikasi penelitian ini memperkuat pentingnya pendekatan komparatif dalam memperluas wacana sastra bandingan Indonesia-Korea dan merevitalisasi warisan sastra klasik dalam konteks kekinian.
Copyrights © 2025